Pernyataan Presiden AS Donald Trump soal jaminan keamanan untuk kapal tanker di Selat Hormuz sempat memberi angin segar. Kebijakan itu jelas bertujuan mencegah krisis energi dan menjaga distribusi global agar tidak macet. Harapannya, langkah ini bisa meredam kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang melonjak.
Namun begitu, efeknya terbatas. Kekhawatiran itu ternyata lebih kuat.
"Perang masih masih berlanjut, dan menurut kami pelaku pasar dan investor masih memiliki perspektif negatif terhadap hal tersebut, sehingga masih mendorong pasar saham dan obligasi global mengalami penurunan," tambah Nico menjelaskan.
Jadi, ke mana arah IHSG? Secara teknikal, pergerakannya diperkirakan akan terbatas di antara level 7.860 sebagai support dan 8.150 sebagai resistance. Dua area itu kini jadi patokan penting bagi investor yang bermain jangka pendek, menentukan kapan masuk atau keluar.
Singkatnya, pasar masih menunggu dan waspada. Ketegangan geopolitik masih menjadi dalang utama di balik volatilitas yang kita saksikan.
Artikel Terkait
Imigrasi Beri Opsi Izin Tinggal Khusus bagi WNA Terdampak Pembatalan Penerbangan Timur Tengah
KPK Tangkap Bupati Pekalongan, Jadi Kepala Daerah ke-8 Terjaring OTT Sejak 2025
Pemerintah Tegaskan Perjanjian Dagang dengan AS Bagian dari Strategi Diplomasi Ekonomi
Hujan Deras Putuskan Akses Jalan dan Listrik, Dusun Wana di Palu Terisolasi