Pertemuan malam itu sendiri dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Nuansa kekeluargaannya memang kental, dan itu tercermin dari susunan tempat duduknya. Presiden Prabowo duduk di meja utama, posisinya diapit oleh dua pendahulunya.
Di sisi kanannya duduk Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Sementara di sebelah kiri, ada Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka duduk dalam satu barisan, sebuah gambaran visual yang powerful tentang estafet kepemimpinan bangsa.
Suasana diskusi di meja bundar itu pun terbilang lengkap. Hadir para pimpinan lembaga tinggi negara. Mulai dari Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua DPR Puan Maharani, sampai Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin. Beberapa menteri kunci Kabinet Merah Putih juga tak absen, seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Mereka semua terlibat, saling bertukar pikiran.
Pada intinya, pertemuan lintas generasi ini lebih dari sekadar agenda rutin. Ia menjadi simbol konsolidasi yang kuat. Di sana, para tokoh bangsa membahas berbagai isu strategis, mencerna tantangan global, dan tentu saja, membicarakan masa depan Indonesia. Sebuah dialog yang, meski berlangsung di balik tembok istana, aromanya terasa hingga ke luar.
Artikel Terkait
Pyridam Farma Percepat Ekspansi Pabrik Obat Steril untuk Jawab Lonjakan Permintaan
Carrick Waspadai Tren Negatif Meski Awal Gemilang di Manchester United
Megawati Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
Mendikdasmen Ajukan ABT Rp 181 Triliun untuk Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi