MURIANETWORK.COM - Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menandatangani sebuah perjanjian bilateral terkait tarif perdagangan. Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela agenda Board of Peace (BoP), di mana Prabowo tercatat sebagai satu-satunya kepala negara yang melakukan pertemuan bilateral langsung dengan Trump dalam forum tersebut. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi perkembangan ini dalam sebuah jumpa pers, Jumat (20/2/2026) malam.
Pertemuan Eksklusif di Tengah Forum Global
Menurut penjelasan resmi, forum BoP dihadiri oleh lebih dari lima belas kepala negara dan pemerintahan. Namun, di antara semua pemimpin dunia yang hadir, hanya Presiden Prabowo yang secara khusus mengadakan pembicaraan bilateral dengan Presiden Trump. Pertemuan ini menandai fokus kedua negara untuk membahas dan memperkuat hubungan ekonomi secara langsung, di luar pembahasan utama forum perdamaian.
Dalam jumpa persnya, Teddy Indra Wijaya menekankan keistimewaan momen ini. "Jadi Bapak Presiden melakukan bilateral dengan Presiden Donald Trump. Jadi kemarin ada lebih dari 15 Kepala Negara dan Pemerintah," tuturnya.
Pembahasan Lanjutan dan Harapan untuk Tarif Dagang
Usai penandatanganan perjanjian, kedua pemimpin melanjutkan dialog dalam sebuah pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar tiga puluh menit. Pertemuan lanjutan ini dinilai sebagai ruang untuk membahas berbagai isu strategis yang lebih mendalam, mengindikasikan tingkat keseriusan dari kedua pihak.
Teddy kembali menegaskan posisi unik Indonesia dalam kesempatan tersebut. "Jadi kemudian satu-satunya Kepala Negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya, dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo," jelasnya. "Kemudian Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit," lanjutnya.
Meski rincian teknis dari perjanjian tarif belum diungkap sepenuhnya, pemerintah Indonesia menyimpan harapan positif terhadap hasilnya. Teddy menyampaikan optimisme bahwa pembicaraan ini akan membawa dampak positif bagi iklim perdagangan Indonesia.
"Tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja," ujarnya.
Langkah ini dipandang sebagai upaya diplomasi ekonomi yang signifikan, mencerminkan upaya Indonesia untuk secara aktif memperjuangkan kepentingan nasionalnya di panggung global. Keberhasilan mengadakan pertemuan eksklusif di tengah agenda internasional yang padat menunjukkan momentum dan prioritas dalam hubungan kedua negara.
Artikel Terkait
CFD Jakarta Tetap Digelar Selama Ramadan 2026 dengan Aturan Khusus
DPR Perjuangkan Guru Madrasah Swasta Jadi PPPK pada 2026
Mantan Dubes Kritik Board of Peace Trump: Tak Ada Peta Jalan Kemerdekaan Palestina
Bank Sampah Sumber Mutiara Tangerang Raih Juara I Lomba Kebersihan Kota