Pendidikan dalam Islam, menurutnya, cakupannya luas. Bukan cuma ilmu agama, tapi juga ilmu tentang alam semesta. Ia juga menyinggung soal Ramadan, yang disebutnya sebagai proses pendidikan panjang untuk melatih pengendalian diri, termasuk mengelola emosi.
UAS kemudian menjabarkan makna guru dalam tradisi Islam. Guru bukan sekadar pengajar, tapi juga pembimbing adab dan penerus tugas kenabian. Sosoknya harus jadi teladan, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran guru dan tokoh pendidikan. Beberapa nama besar seperti Jenderal Sudirman dan A.H. Nasution, ternyata awalnya adalah pendidik sebelum akhirnya turun ke medan perang.
Organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan Al Jam'iyatul Washliyah juga disebut punya andil besar. Mereka membangun kesadaran kebangsaan lewat jaringan pendidikan dan pesantren.
Di akhir tausiyahnya, UAS menyampaikan pesan penutup yang cukup menggigit. Ia mengingatkan agar warisan perjuangan para pendidik di masa lalu jangan sampai dirusak oleh kepentingan duniawi yang sempit.
Penulis: Lidya Thalia.S
Editor: Redaktur
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan