Jakarta – Suasana di Masjid Baitut Tholibin, yang terletak di kompleks Kemendikdasmen, Jumat lalu benar-benar berbeda. Lebih dari seribu jemaah memadatinya, antusias mendengarkan khutbah dari Ustaz Abdul Somad. UAS, begitu ia biasa disapa, berbicara panjang lebar tentang pendidikan. Baginya, pendidikan adalah fondasi utama untuk memajukan bangsa dan mengangkat martabat manusia.
Kegiatan itu sendiri bukan cuma salat Jumat biasa. Rupanya, ada acara bedah buku karya UAS berjudul “35 Kisah Saat Maut Menjemput” yang digelar oleh Kemendikdasmen bersama dua kementerian lain. Acara ini digadang-gadang sebagai bagian dari gerakan penguatan literasi, khususnya di bidang keagamaan, dengan memanfaatkan masjid sebagai ruang belajar yang hidup.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tampak sangat mengapresiasi. Ia tak cuma senang dengan kehadiran UAS, tapi juga semangat jemaah yang memadati acara.
Menurutnya, kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian punya tujuan yang lebih dalam: membangun atmosfer kerja yang religius dan penuh integritas.
Mu’ti juga punya pesan khusus untuk para ASN. Ia mengingatkan agar mereka bekerja secara profesional dan menjadikan setiap tugas sebagai bentuk ibadah.
Pesan UAS: Pendidikan Lebih Berharga dari Harta
Dalam khutbahnya, UAS menyelipkan kisah menarik dari Perang Badar. Saat itu, Rasulullah SAW membebaskan tawanan perang dengan satu syarat unik: mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim. Bukan tebusan harta yang diminta.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan