“Saya ingin meluruskan narasi yang keliru. Ada pihak yang menyampaikan program makan bergizi gratis mengurangi anggaran pendidikan sehingga sekolah terbengkalai dan guru tidak diperhatikan. Itu narasi yang keliru,” tegas Teddy.
Dari penjelasannya, program MBG justru bertujuan meningkatkan kualitas SDM. Soal anggaran, kebijakan ini sudah melalui pembahasan panjang di DPR, termasuk di tingkat Badan Anggaran. Lalu, apakah program ini sampai mengurangi alokasi untuk pendidikan?
“Saya jawab, tidak,” ucapnya singkat.
Ia menegaskan, tidak ada program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang dihentikan. Malah, beberapa justru ditambah. Kartu Indonesia Pintar tetap berjalan. Program Indonesia Pintar juga. Bahkan, pemerintah menambahkan Sekolah Rakyat untuk anak-anak yang putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali.
Di sisi lain, renovasi sekolah rusak terus digenjot. Pada 2025 saja, sekitar 16.000 sekolah diperbaiki dengan anggaran mencapai Rp17 triliun. Pemerintah juga mendistribusikan 280.000 unit TV digital untuk pembelajaran di sekolah-sekolah sepanjang tahun lalu dan jumlah itu rencananya akan ditingkatkan lagi tahun ini.
“Belum lagi ada Sekolah Garuda, sekolah terintegrasi, serta pembangunan kampus-kampus baru yang sedang berjalan. Jadi, tidak ada program yang dihentikan. Semua berjalan dan bahkan ditambah,” pungkas Teddy menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Gubernur Banten Tinjau Jalan Desa Baru di Lebak, Dukung Efisiensi Biaya Petani
DPR Klaim Tak Diajak Bahas Rencana Impor 105 Ribu Pikap India
Perempuan Muda Tewas Terlempar dari Flyover Arengka Diduga karena Tidak Fokus
KPK Geledah Rumah Mantan Pj Sekda Pati Terkait Kasus Pemerasan Bupati