(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Stabilitas APBN Jadi Prioritas
Wamenkeu pun menegaskan satu hal: stabilitas APBN tetap jadi prioritas utama. Caranya? Dengan disiplin dan strategi pembiayaan yang adaptif, yang tujuannya jelas untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan utang pemerintah ke depannya.
"Pembiayaan anggaran berjalan dengan baik, on track, dan terjaga kredibilitasnya," tutur Juda meyakinkan.
Meski begitu, catatan lain menunjukkan APBN masih mencatatkan defisit. Per 31 Januari 2026, defisitnya tercatat Rp54,6 triliun, atau sekitar 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Ini menarik. Soalnya, defisit itu muncul padahal pendapatan negara justru tumbuh positif 20,5 persen secara tahunan. Realisasinya Rp172,7 triliun, walau baru memenuhi 5,5 persen dari target tahunan.
Sementara itu, belanja negara malah tumbuh lebih cepat, yaitu 25,7 persen year-on-year. Realisasinya mencapai Rp227,3 triliun, atau 5,9 persen dari target APBN.
Dengan komposisi seperti itu, keseimbangan primer pun ikut tercatat defisit, yakni sebesar Rp4,2 triliun. Kemenkeu menyikapi ini dengan hati-hati. Mereka menyebut realisasi secara keseluruhan ini mencerminkan sebuah posisi fiskal yang dikelola dengan penuh kehati-hatian.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Apresiasi Pemecatan Oknum Brimob Pelaku Penganiayaan Siswa di Tual
Satu dari Delapan Buron Rutan Way Kanan Berhasil Ditangkap di Hutan
Gubernur Jateng Operasikan Loader di Pantai Batang, Soroti Darurat Sampah 6,36 Juta Ton
KONI NTT Targetkan 37 Emas PON 2028, Anggaran Rp250 Miliar Disiapkan