Di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Jakarta, suasana Jumat lalu (5/12) terasa berbeda. Ahmad Muzani, Ketua MPR RI, berdiri menyampaikan orasi kebangsaannya di hadapan para peserta Sekolah Pimpinan PB HMI. Pesannya jelas: perjalanan panjang Himpunan Mahasiswa Islam tak bisa dipisahkan dari napas sejarah Indonesia itu sendiri.
Menurut Muzani, HMI sudah ada sejak awal, mengawal Republik ini di masa-masa paling genting. “HMI lahir ketika negara ini belum terkonsolidasi, belum menghadapi agresi Belanda,” ujarnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya, Sabtu (6/12/2025).
“Dari situ muncullah anak-anak bangsa yang punya kesadaran tinggi untuk membangun masa depan negeri.”
Ia menelusuri jejak organisasi ini dari era orde lama, melalui masa orde baru, hingga gelombang reformasi. HMI selalu hadir di setiap titik penting. Muzani juga menyelipkan buah pemikiran mendiang Cak Nur, Nurcholish Madjid, tentang ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Gagasan itu, katanya, menjadi penyeimbang yang diperlukan di tengah arus sekularisasi yang kencang pada zamannya.
“Tanpa harus menjadi partai Islam, semangat keislaman hari ini justru menjadi energi kehidupan berbangsa,” tegasnya.
“Negara melindungi ibadah, transaksi, dan praktik kehidupan berdasarkan ajaran agama.”
Di sisi lain, Muzani tak hanya bicara tentang masa lalu. Ia mendorong kader-kader HMI untuk terus terlibat, melalui profesi apapun, dalam membangun Indonesia ke depan. Sekolah Pimpinan ini, dalam pandangannya, adalah wadah mencetak calon pemimpin masa depan. “Saya yakin beberapa tahun ke depan akan ada yang menjadi bupati, wali kota, bahkan gubernur,” kata Muzani dengan optimisme.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Alasan Pemeriksaan Bupati Digelar di Kudus, Bukan Pati
Polisi Amankan Pengedar Sabu di Jatiuwung, 1,5 Gram Sabu Disita
Foto Duta Besar AS di Ankara Picu Badai Kritik: Gubernur Kolonial atau Sekadar Protokol?
BGN Ungkap Kesenjangan Data Hambat Program Makan Bergizi Gratis