JAKARTA – Insiden penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, mendapat kecaman keras dari politisi DPR. Andreas Hugo Pareira, Wakil Ketua Komisi XIII, menyebut aksi itu sebagai bentuk teror yang nyata. Tujuannya jelas: membungkam.
"Tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM," ujar Andreas.
Baginya, ini bukan sekadar kekerasan biasa. Ini serangan brutal yang sangat tidak manusiawi. Ia mendesak polisi untuk bergerak cepat. Pelaku dan motif di baliknya harus segera diungkap ke publik.
"Aparat kepolisian harus segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif dibalik serangan brutal yang sangat tidak manusiawi," tegasnya.
Andreas bahkan menyampaikan kritik pedas. Keberadaan aparat, menurutnya, jadi tak ada gunanya jika gagal dalam kasus seperti ini.
"Percuma negara ini punya aparat kepolisian kalau tidak mampu menemukan dan mengungkap motif pelaku," tuturnya.
Lantas, bagaimana kejadiannya? Menurut informasi, Andrie diserang usai melakukan perekaman siniar di Kantor YLBHI. Topiknya cukup sensitif: “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.” Dua orang tak dikenal mendatanginya, lalu menyiramkan air keras.
Akibatnya parah. Andrie mengalami luka serius di sekujur tubuhnya. Tangan kanan dan kirinya, muka, dada, dan yang paling mengkhawatirkan, bagian matanya. Dari pemeriksaan medis, tercatat ada 24 titik luka bakar di tubuhnya. Sungguh mengerikan.
Artikel Terkait
Razia Daycare di Yogyakarta, 33 Lembaga Terindentifikasi Belum Miliki Izin Operasional
Misi Dagang Jatim di Malaysia Capai Transaksi Rp15,25 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Wakapolri Soroti Tata Kelola Keuangan, Tiga Polda Raih Penghargaan IKPA Terbaik
Korban Tewas Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang