"Bukan cuma pramudinya, operatornya pun akan kena sanksi. Saat ini tengah diinvestigasi untuk mengetahui akar masalahnya," ujarnya.
Di sisi lain, Tjahyadi menyoroti pentingnya kejujuran dan pengawasan. Seharusnya, kalau kondisi tubuh lagi nggak fit, seorang pramudi mesti berani bilang dan meminta untuk tidak bertugas. Itu sisi dari pengemudinya.
"Karena seharusnya pramudi harus fit selama bertugas, jika merasa kurang fit harus jujur dan minta tidak bertugas," paparnya.
Lalu, dari sisi operator? Mereka dianggap punya andil besar. Pengawasan terhadap kebugaran awak bus selama bertugas dinilai kurang ketat. Insiden ini, kata Tjahyadi, kemungkinan besar terjadi karena kontrol itu tidak berjalan.
"Sisi operator, mereka harus melakukan kontrol kebugaran selama pramudi bertugas, adanya case ini kemungkinan hal tersebut tidak dilakukan," sambung Tjahyadi.
Jadi, ada dua pihak yang sedang dalam sorotan sekarang: sang sopir yang kecapekan sampai tertidur, dan operator yang diduga lalai mengawasi. Sementara puluhan penumpang yang jadi korban harus menanggung akibatnya.
Artikel Terkait
DPR Minta Penundaan Impor Kendaraan India untuk Program Koperasi Desa
Sahur On the Road Ilegal di Jombang Picu Kontroversi
Tito Desak Percepatan Pendataan untuk Cairkan Bantuan Pascabencana Sumatera
Harga Emas Antam Naik Rp40 Ribu per Gram, Tren Positif Berlanjut