Krisis Kesehatan Mental Anak: 2 Juta Lebih Anak Indonesia Mengalami Gangguan Jiwa

- Minggu, 02 November 2025 | 17:30 WIB
Krisis Kesehatan Mental Anak: 2 Juta Lebih Anak Indonesia Mengalami Gangguan Jiwa
Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: 2 Juta Anak Terdampak, Peringatan Serius dari DPR

Krisis Kesehatan Mental Anak: 2 Juta Lebih Anak Indonesia Mengalami Gangguan Jiwa

Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengungkap temuan data mengkhawatirkan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai kesehatan mental anak di Indonesia. Data tersebut menyebutkan bahwa lebih dari dua juta anak di tanah air mengalami gangguan kesehatan mental.

Jumlah yang memprihatinkan ini setara dengan sekitar 10 persen dari total 20 juta jiwa yang telah menjalani layanan pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang disediakan oleh Kemenkes.

"Anak-anak yang mengalami tekanan mental adalah generasi masa depan bangsa. Jika tidak segera ditangani, berisiko kehilangan potensi besar mereka," tegas Netty.

Data Kemenkes adalah Sinyal Darurat Sosial

Netty menegaskan bahwa temuan dari Kemenkes ini harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak untuk segera memberikan perhatian lebih terhadap isu kesehatan jiwa pada anak dan remaja.

"Angka ini bukan sekadar data statistik, tetapi sinyal darurat sosial yang harus ditanggapi bersama," tegas legislator dari PKS tersebut.

Apresiasi dan Kritik untuk Layanan Kemenkes

Netty mengapresiasi inisiatif Kemenkes yang telah membuka data dan menyediakan layanan konseling daring. Layanan ini dinilai membantu masyarakat dalam mengakses dukungan psikologis dengan mudah dan anonim.

Namun, ia menilai upaya tersebut perlu ditingkatkan dengan pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan, serta mampu menjangkau hingga ke pelosok daerah.

"Layanan daring sangat membantu, tetapi belum semua anak memiliki akses internet. Pemerintah perlu memperkuat layanan konseling di sekolah, puskesmas, dan komunitas agar lebih inklusif," paparnya.

Pentingnya Transparansi Data Kesehatan Mental

Netty juga berharap Kementerian Kesehatan dapat memberikan penjelasan lebih rinci mengenai cakupan dan validitas data yang dirilis. Hal ini penting agar publik dapat memahami konteks permasalahan secara utuh.

"Transparansi data akan membantu publik melihat persoalan ini dengan lebih tepat. Penjelasan tentang metode, cakupan, dan validitas data sangat penting, bukan untuk meragukan hasil, tetapi agar bisa bersama-sama menentukan langkah intervensi yang paling efektif," ujarnya.

Dengan dasar data yang komprehensif, semua pemangku kepentingan dapat merancang program pencegahan dan pendampingan bagi anak yang lebih tepat sasaran.

Membangun Budaya Komunikasi yang Hangat

Netty menekankan bahwa anak-anak masa kini hidup di era tekanan digital dan ekspektasi sosial yang tinggi. Oleh karena itu, membangun budaya komunikasi yang hangat di dalam keluarga dan sekolah adalah sebuah keharusan.

"Penting untuk menciptakan lingkungan dimana anak merasa aman untuk bercerita dan meminta bantuan," pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar