Anfield akhirnya senyap. Sorak-sorai yang sempat menggema usai gol Dominik Szoboszlai, sirna sudah. Digantikan oleh kenyataan pahit: Manchester City membalikkan keadaan di menit-menit penentu, meraih kemenangan dramatis 2-1. Gol penalti Erling Haaland di injury time menjadi pukulan pamungkas yang menyisakan kekecewaan mendalam bagi para pendukung The Reds.
Pertandingan itu sendiri berjalan ketat sejak peluit awal dibunyikan. Kedua tim tampak sangat hati-hati, menyadari betapa berharganya tiga poin dalam persaingan di puncak klasemen. City, seperti biasa, lebih banyak memegang kendali bola dan membangun serangan dengan sabar dari belakang. Liverpool? Mereka memilih untuk menunggu dan menghajar lewat serangan balik yang tajam.
Babak pertama berakhir tanpa gol. Ancaman serius terhadap kedua kiper bisa dihitung jari. Namun, segalanya berubah begitu memasuki babak kedua.
Momen Singkat Kebahagiaan di Anfield
Tempo permainan tiba-tiba meningkat. Liverpool mulai menekan lebih tinggi, dan usaha itu terbayar di menit ke-74. Szoboszlai, dengan penyelesaian dingin, merobak gawang City. Anfield meledak. Momentum sepenuhnya berada di tangan tuan rumah. Tapi, tim besutan Pep Guardiola bukanlah tim yang mudah menyerah.
Melihat situasi, Guardiola segera melakukan rotasi pemain. Dia memasukkan energi dan kreativitas baru ke lapangan. Tekanan City kian menjadi-jadi, dan Liverpool mulai terlihat kesulitan bernapas.
Bangkitnya Sang Juara
Tekanan itu akhirnya membuahkan hasil. Di menit ke-84, Bernardo Silva sukses menyamakan kedudukan, memanfaatkan sedikit kekacauan di pertahanan Liverpool. Gol ini seperti menyetrum permainan. City makin percaya diri, sementara Liverpool kehilangan ritme.
Namun begitu, drama sesungguhnya baru terjadi di masa injury time. Wasit menunjuk titik putih setelah terjadi insiden di kotak penalti Liverpool. Stadion mendadak hening.
Erling Haaland yang maju sebagai eksekutor. Dengan tenang, ia menempatkan bola ke sudut kanan bawah gawang, mengalahkan Alisson. 1-2 untuk City. Pukulan telak di menit 90 3'.
Kekacauan pun mencapai puncaknya. City sempat mencetak gol ketiga, tapi VAR menganulirnya karena ada pelanggaran. Emosi pemain Liverpool memanas. Szoboszlai, sang pencetak gol, malah menerima kartu merah di menit 90 13' setelah melakukan pelanggaran keras. Laga pun ditutup dengan kepahitan bagi tuan rumah.
Angka-Angka di Balik Drama
Secara statistik, pertandingan ini cukup seimbang. Tapi, detail kecil sering kali jadi penentu. City unggul tipis dalam penguasaan bola, 53% berbanding 47%. Yang lebih mencolok adalah efisiensi mereka: dari 16 tembakan, 7 di antaranya mengarah ke gawang. Liverpool hanya menghasilkan 4 tembakan tepat sasaran dari 15 percobaan. Akurasi operan City juga lebih baik, 84% berbanding 78%.
Angka-angka itu bicara. City memang lebih tajam dan efektif dalam menciptakan serta memanfaatkan peluang yang ada.
Kartu Merah dan Evaluasi
Pertandingan panas ini juga menghasilkan banyak kartu. Liverpool dapat dua kuning dan satu merah, City mengumpulkan empat kartu kuning. Emosi yang meledak di akhir laga adalah cermin dari tekanan dan kekecewaan yang tertahan.
Di satu sisi, kemenangan ini menegaskan mental baja City. Mereka tetap tenang dan percaya diri meski tertinggal, lalu memetik hasil di saat-saat paling krusial. Sebuah ciri khas tim juara.
Di sisi lain, Liverpool punya pekerjaan rumah. Mereka harus belajar lagi bagaimana mempertahankan keunggulan dan menjaga disiplin saat tekanan datang. Kekalahan ini tentu akan berdampak pada peta persaingan di puncak. Satu hal yang pasti: rivalitas sengit antara dua raksasa Inggris ini masih akan terus menghadirkan drama-drama seperti ini.
Artikel Terkait
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN
KUHP dan KUHAP Baru Perkuat Perlindungan Hukum bagi Korban Perempuan dan Anak