Ramadan dan Idul Fitri selalu membawa pola yang sama: lonjakan permintaan bahan pokok, tekanan pada harga pangan, dan ancaman inflasi yang mengintai. Bukan hal baru, memang. Tapi, apakah kita harus terus menerima situasi ini sebagai rutinitas tahunan yang tak terelakkan?
Menurut para pelaku di lapangan, operasi pasar sesaat saja tak cukup. Perlu ada perubahan yang lebih mendasar. Yukki Nugrahawan Hanafi, dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALFI), punya pandangan jelas soal ini.
"Koordinasi pusat dan daerah itu penting untuk respons cepat," ujarnya.
Namun begitu, ia menekankan bahwa stabilitas jangka panjang hanya akan terwujud jika sistem distribusi kita sudah efisien, terhubung dengan baik, dan didukung data yang transparan. Tanpa itu, kita hanya akan terus memadamkan kebakaran, bukan mencegahnya.
Dari kacamata ekonomi, harga yang stabil jelas menguntungkan semua pihak. Masyarakat bisa bernapas lega, dunia usaha punya kepastian. Tapi kenyataannya? Gangguan di arus perdagangan, pasokan yang tak merata antar daerah, kemacetan di pelabuhan, plus minimnya data yang terintegrasi semua itu jadi bahan bakar utama gejolak harga.
Yukki melihat, mengendalikan inflasi pangan sangat erat kaitannya dengan biaya logistik yang efisien dan tata kelola yang akuntabel. Di sinilah kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha memegang peran krusial.
Lalu, solusi jangka panjangnya seperti apa?
Yukki mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, perbaiki konektivitas domestik dan tingkatkan efisiensi pelabuhan. Distribusi antarpulau harus cepat, murah, dan bisa diprediksi. Pelabuhan dan transportasi multimoda adalah urat nadi yang tak boleh tersumbat.
Kedua, bangun integrasi data real-time dilengkapi sistem peringatan dini. Dengan informasi produksi, stok, dan arus barang yang tersinkronisasi, potensi kelangkaan atau aksi spekulasi bisa dideteksi lebih awal.
Ketiga, koordinasi lintas pemangku kepentingan harus diperkuat. Pemerintah, forwarder, operator pelabuhan, hingga pedagang ritel perlu bergerak dalam satu harmoni kebijakan.
Sebagai negara kepulauan, tantangan kita memang kompleks. Kita butuh sistem logistik yang tak cuma bisa mengangkut barang, tapi juga menjaga stabilitas ekonomi. Ketahanan rantai pasok adalah fondasinya. Agar nanti, ketika Ramadan dan Lebaran tiba lagi, kita tak lagi disibukkan oleh drama kenaikan harga yang itu-itu saja.
Artikel Terkait
KPK Dalami Dugaan Pemanfaatan Safe House dalam Kasus Suap Bea Cukai
Kebakaran di Cianjur Tewaskan Tiga Orang, Nenek 64 Tahun Luka Bakar 100 Persen
Brimob Polda Metro Jaya Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Jakarta Timur
Indonesia Tegaskan Dukungan Tak Tergoyahkan bagi Palestina di Sidang Dewan HAM PBB