Mantan Presiden yang juga ahli strategi militer itu kemudian mengajak hadirin membayangkan skenario yang lebih kontemporer dan mengkhawatirkan. Ia mempertanyakan respons yang mungkin dilakukan jika pusat pemerintahan dan industri strategis nasional menjadi sasaran serangan udara masif yang presisi dan menghancurkan.
“Sekarang begitu ada airstrike menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, kota-kota yang lain, apa yang kita lakukan? Hayo,” tantang SBY, menyoroti kerentanan infrastruktur vital yang sebelumnya dianggap terlindungi oleh jarak dan geografi.
Tuntutan Peperangan Modern dan Kesiapan Menyeluruh
Dalam penuturan yang lugas, SBY menegaskan bahwa karakter konflik global telah berubah secara fundamental. Era baru ini, menurut analisisnya, menuntut tidak hanya teknologi canggih, tetapi juga doktrin, taktik, dan kesiapan seluruh komponen pertahanan yang terintegrasi.
“Jadi ini modern era, modern warfare, modern technology, modern doctrine. Semuanya harus siap, kalau hybrid itu ya intinya tidak memilih, semuanya harus siap kita lakukan. Intinya begitu,” tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kebutuhan akan kesiapan multidomain, di mana kekuatan udara bukan menggantikan, melainkan menjadi tulang punggung yang menyinergikan seluruh matra pertahanan dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan dinamis.
Artikel Terkait
Banding Ditolak, Leicester City Tetap Terancam Degradasi Usai Potongan Poin
Kejati DKI Geledah Kementerian PU Terkait Dugaan Korupsi Dana APBN
Pelaku Pencabulan Anak di Tangerang Selatan Ditangkap Setelah Setahun Buron
TNI AU Gelar Upacara Peringatan 80 Tahun di Lanud Sultan Hasanuddin