MURIANETWORK.COM - Gelombang unjuk rasa kembali terjadi di sejumlah kampus di Iran pada Minggu (22/2) waktu setempat. Aksi ini berlangsung dalam suasana tegang, di tengah mandeknya perundingan nuklir dengan Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan. Demonstrasi mahasiswa ini juga mengangkat isu domestik, sebagai bentuk peringatan bagi korban tewas dalam aksi protes antipemerintah beberapa waktu sebelumnya.
Dua Gelombang Protes dalam Satu Pekan
Unjuk rasa pada hari Minggu itu bukanlah yang pertama dalam pekan tersebut. Sehari sebelumnya, pada Sabtu (21/2), mahasiswa di berbagai kampus telah menggelar aksi serupa untuk mengenang para korban yang jatuh dalam gelombang demonstrasi sebelumnya. Situasi di lapangan dilaporkan cukup kompleks, dengan aksi pro-pemerintah dan antipemerintah kerap terjadi secara bersamaan di lokasi yang berdekatan.
Kantor berita Fars, yang memiliki afiliasi dengan pemerintah, turut merilis sejumlah rekaman video pada hari Minggu. Video-video tersebut menunjukkan kerumunan puluhan orang yang membawa bendera Iran serta foto-foto peringatan di beberapa universitas di Teheran.
Gema Sejarah dan Tuntutan Perubahan
Suasana demonstrasi terlihat cukup panas. Salah satu video yang beredar, diambil dari kompleks Universitas Teknologi Sharif, menangkap kerumunan demonstran yang meneriakkan slogan-slogan politis bernada keras.
“Matilah Shah,” teriak mereka, sebuah seruan yang jelas merujuk pada monarki yang digulingkan oleh Revolusi Islam Iran lebih dari empat dekade lalu, tepatnya pada tahun 1979.
Dari Isu Ekonomi ke Tantangan Politik
Akar dari ketegangan ini dapat ditelusuri kembali ke unjuk rasa besar-besaran pada Desember tahun lalu. Awalnya, protes dipicu oleh keluhan masyarakat atas kesulitan ekonomi yang membelit. Namun, dengan cepat, tuntutan itu berkembang dan meluas menjadi gerakan antipemerintah yang dianggap sebagai salah satu ujian terberat bagi kepemimpinan ulama di Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan Internasional dan Ancaman Militer
Dinamika dalam negeri Iran ini tak lepas dari sorotan dan tekanan internasional. Presiden AS kala itu, Donald Trump, awalnya menyatakan dukungan terbuka bagi para demonstran dan bahkan mengancam akan melakukan intervensi, menanggapi operasi penindakan keras oleh otoritas Iran. Namun, fokus ancaman Washington kemudian bergeser ke program nuklir Iran, yang dicurigai Barat bertujuan untuk membangun senjata atom.
Meski kedua negara kembali membuka jalur diplomasi dan duduk di meja perundingan, ketegangan justru makin memanas. AS secara bersamaan meningkatkan pengerahan kekuatan militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah. Langkah ini secara terbuka dimaksudkan sebagai bentuk tekanan untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan dalam perundingan nuklir, namun justru menambah suasana mencekam dan kekhawatiran akan terjadinya konflik terbuka.
Artikel Terkait
Kapolri Apresiasi Gerakan Islah PUI untuk Perbaikan SDM dan Kepemimpinan Nasional
Bulog Siap Bangun Gudang Logistik di Arab Saudi untuk Pasokan Jemaah Haji
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Jakarta 23 Februari 2026: Imsak 04.32 WIB, Buka 18.18 WIB
Pemerintah Perbarui Data Penerima Bantuan Iuran JKN untuk Akurasi Layanan Kesehatan