Kombes Carles Siagian, kepala rumah sakit tersebut, menjelaskan, "Ditemukan anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak, di kaki kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung. Luka bakar juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena panas."
Namun begitu, misteri belum sepenuhnya terkuak. Menurut Carles, luka-luka bakar itu sendiri diduga bukan penyebab utama kematian. "Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujarnya. Artinya, masih ada yang perlu digali lebih dalam.
Sang Ibu Tiri Membantah
Di sisi lain, ibu tiri korban, TR (46), bersikukuh membantah semua tuduhan penganiayaan. Ia merasa difitnah keji.
"Tuduhan dari netizen seperti berita itu semua tidak benar. Saya tidak sekeji itu," bantah TR lewat pesan tertulis.
Perempuan itu punya penjelasan lain. Menurut klaimnya, NS memiliki riwayat penyakit serius yang jadi biang keroknya. "Anak meninggal karena sakit kanker darah leukemia dan autoimun. Jadi kulit melepuh itu karena faktor panas dalam," jelas TR.
Tapi, klaim itu sepertinya berbenturan dengan temuan resmi kepolisian. Visum et repertum justru mengungkap cerita yang berbeda.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, memaparkan detailnya. "Hasil visum menunjukkan adanya luka lecet di beberapa bagian wajah, leher, hingga anggota gerak. Selain itu, ditemukan luka bakar derajat 2A di beberapa titik tubuh dan lebam merah keunguan yang mengindikasikan adanya trauma tumpul," paparnya.
Nah, di sinilah letak titik berat penyelidikan. Antara pengakuan, bantahan, dan bukti medis. Polisi masih bekerja untuk menyambung semua kepingan puzzle yang ada, mencari kebenaran di balik tragedi yang merenggut nyawa seorang anak ini.
Artikel Terkait
Pemerintah Pertahankan Target Pertumbuhan 5,5% Meski Bank Dunia Pangkas Proyeksi
Hasil Uji Coba Buruk, Kinerja Pelatih Timnas U-17 Kurniawan Dwi Yulianto Dipertanyakan
Ledakan Guncang Gedung Padel dan SD di Bogor, Tak Ada Korban Jiwa
Kapolda Riau dan Polisi Malaysia Perkuat Kerja Sama Hadapi Narkoba dan Radikalisasi Online