Laporan dari lapangan di distrik Bihsud, Nangarhar, menggambarkan suasana duka dan upaya penyelamatan yang darurat. Warga dari daerah sekitar berbondong-bondong membantu tim penyelamat yang berusaha mengeluarkan korban dari bawah reruntuhan. Alat berat seperti ekskavator hingga sekop tangan digunakan dalam proses evakuasi yang penuh tekanan.
“Orang-orang di sini adalah orang biasa. Penduduk desa ini adalah kerabat kami. Ketika pemboman terjadi, seorang yang selamat berteriak meminta bantuan,” tutur seorang tetangga, Amin Gul Amin (37), menggambarkan kepanikan saat kejadian.
Kondisi di Lokasi Serangan
Polisi setempat di Nangarhar mengonfirmasi bahwa serangan berlangsung sekitar tengah malam dan melanda tiga distrik berbeda. Korban jiwa dari kalangan sipil tidak terhindarkan, dengan satu insiden tragis di mana satu rumah mengakibatkan 23 anggota keluarga tewas.
“Warga sipil tewas. Di satu rumah, ada 23 anggota keluarga. Lima orang yang terluka telah dievakuasi,” ungkap juru bicara polisi Nangarhar, Sayed Tayeeb Hammad.
Insiden ini kembali menyoroti kompleksitas dan kerapuhan situasi keamanan di wilayah perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan. Sementara masing-masing pihak memiliki klaimnya sendiri, dampak humaniter yang langsung dirasakan oleh masyarakat sipil menjadi catatan kelam dari eskalasi ketegangan ini.
Artikel Terkait
KPK Periksa Dua Saksi Kasus Korupsi Restitusi Pajak Kalsel
Sampah Meluber di TPS 3R Pulogebang, Warga Khawatirkan Ancaman Penyakit
KPK Periksa Empat Saksi Kasus Pemerasan RPTKA di Malang
Presiden Iran Tegaskan: Gencatan Senjata dengan AS Bergantung pada Penghentian Serangan Israel ke Lebanon