Fadli Zon Soroti Potensi Indonesia sebagai Pusat Kebudayaan Dunia di UMSurabaya

- Minggu, 22 Februari 2026 | 13:20 WIB
Fadli Zon Soroti Potensi Indonesia sebagai Pusat Kebudayaan Dunia di UMSurabaya

Di Gedung At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya, suasana tampak berbeda. Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir bukan sekadar sebagai pembicara, tapi juga untuk berdialog langsung dengan mahasiswa. Acara Studium Generale yang jadi bagian dari Baitul Arqam Mahasiswa 2026 itu mengangkat tema besar: 'Visi dan Strategi Kemajuan Kebudayaan Islam di Indonesia'.

Baitul Arqam sendiri, bagi kalangan Muhammadiyah, bukan program biasa. Ini adalah sistem pembinaan intensif yang wajib diikuti mulai dari anggota biasa hingga pimpinan kampus untuk mengasah ideologi, komitmen, dan jiwa kepemimpinan.

Di hadapan para peserta, Fadli Zon langsung membuka pembicaraan dengan menggambarkan kekayaan Nusantara. Bayangkan saja, katanya, kita punya warisan budaya yang luar biasa banyaknya. Mulai dari bahasa, tradisi lisan, naskah kuno, sampai ke soal makanan lokal dan permainan rakyat. Semuanya masih hidup.

“Dengan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, dan ratusan bahasa daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026), “Indonesia ini sebenarnya negara dengan megadiversity budaya. Potensi kita untuk jadi pusat kebudayaan dunia, bahkan kekuatan besar di bidang itu, sangat nyata.”

Menurutnya, salah satu kekuatan utama kita justru terletak pada cara Islam masuk ke Nusantara. Berbeda dengan banyak tempat lain, prosesnya damai dan penuh akomodasi. Islam tidak datang untuk menghancurkan, melainkan merangkul tradisi yang sudah ada. Yang bertentangan dengan tauhid saja yang ditinggalkan. Soal bentuk, bisa berubah; tapi esensinya seringkali tetap dipertahankan.

“Toleransi seperti inilah,” tegasnya, “yang membuat Islam mudah diterima di berbagai tempat, termasuk di Nusantara.”

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar