Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, tumpukan kayu hanyutan yang berserakan kini perlahan menemukan manfaatnya. Kementerian Kehutanan melaporkan, material dari alam itu telah diubah menjadi 13 unit hunian sementara atau huntara untuk warga yang rumahnya rusak. Kabar baiknya, 3 unit di Desa Geudumbak bahkan sudah ditempati. Proses pembangunan masih berlanjut untuk 10 unit lainnya.
Di sisi lain, upaya tak cuma berhenti di situ. Sebanyak 50 personel juga turun tangan membersihkan fasilitas desa. Kantor Keuchik Leubok Mane, misalnya, dengan empat ruangannya, sudah kembali berfungsi.
Menurut sejumlah saksi di lapangan, kerja pemulihan ini cukup masif. Di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara saja, ada 69 personel yang dikerahkan. Mereka didukung puluhan unit alat berat dari ekskavator sampai dozer yang berasal dari Kemenhut, TNI, hingga PUPR. Fokusnya jelas: membersihkan permukiman dan memilah kayu yang masih bisa dipakai untuk huntara.
“Kayu hanyutan ini menjadi sumber material utama untuk mendukung pembangunan hunian sementara secara cepat dan terkontrol,”
kata Subhan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, pada 12 Januari 2025.
Ia menyebut, hingga sehari sebelumnya, timnya bersama Dinas LHK Aceh sudah mengukur 938 batang kayu. Volume totalnya mencapai 1.506 meter kubik. Angka yang tidak sedikit.
Artikel Terkait
Prabowo Murka, Sindir Direksi BUMN Ndasbleg yang Rugi Tapi Minta Bonus
Tol Sedyatmo Tergenang, Sembilan Pompa Dikerahkan untuk Atasi Banjir Menuju Bandara Soetta
Lentera Perempuan Menyala di Tengah Keramaian Stasiun MRT
Tiket Piala Asia Futsal 2026 Dilepas, Mulai Rp75 Ribu