Wall Street Melonjak Signifikan Usai AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata

- Kamis, 09 April 2026 | 06:35 WIB
Wall Street Melonjak Signifikan Usai AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata

Wall Street menutup perdagangan Rabu (8/4/2026) dengan catatan hijau yang cukup signifikan. Sentimen investor membaik setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan yang ditengahi Pakistan ini, rupanya, jadi angin segar yang ditunggu pasar.

Indeks Dow Jones melonjak 1.326,33 poin, atau setara 2,85 persen, ke level 47.910,79. Sementara itu, S&P 500 naik 165,98 poin (2,51%) menjadi 6.782,83. Nasdaq Composite juga ikut meroket, bertambah 617,15 poin atau 2,80 persen, menetap di 22.635,00. Kenaikan terjadi hampir di semua sektor sejak bel dibuka.

Namun begitu, reli ini punya latar yang kelam. Konflik yang dipicu serangan AS-Israel akhir Februari lalu sempat mengguncang pasar global. Pasokan minyak terganggu, inflasi mengancam, dan ketidakpastian merajalela. Itu sebabnya, kabar gencatan senjata langsung disambut dengan euforia.

Seorang pejabat senior Iran bahkan memberi sinyal lebih lanjut. Menurutnya, Selat Hormuz jalur vital bagi seperlima minyak dunia bisa dibuka kembali Kamis atau Jumat ini. Syaratnya, kedua pihak menyetujui kerangka gencatan senjata. Ini jelas kabar bagus, meski jalan menuju perdamaian tetap masih panjang.

Mike Dickson dari Horizon Investments di Charlotte melihat reli ini sebagai bentuk kelegaan pasar. "Ini pergerakan yang diharapkan," katanya.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tapi pasar cukup lega. Sisi lain dari koin ini bisa jauh lebih buruk. Jadi, wajar kalau kita lihat pemulihan kuat justru di area pasar yang paling terpukul," ujarnya menjelaskan.

Pergerakan hari Rabu itu cukup historis. Dow mencatat kenaikan persentase terbesar dalam satu sesi sejak April tahun lalu. S&P 500 bahkan berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret.

Dari 11 sektor utama, delapan di antaranya melonjak lebih dari 2 persen. Sektor industri jadi yang terdepan. Tapi, tidak semua merasakan manisnya kenaikan. Sektor energi justru terpuruk, anjlok 3,7 persen, terdampak langsung oleh jatuhnya harga minyak mentah.

Kontrak berjangka minyak WTI dan Brent benar-benar kolaps, masing-masing merosot 16,4% dan 13,3%. Keduanya akhirnya settle di bawah level psikologis USD100 per barel. Penurunan yang cukup dramatis.

Di balik optimisme pasar, Federal Reserve rupanya punya kekhawatiran sendiri. Risalah rapat mereka Maret lalu mengungkapkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga. Alasannya, prospek inflasi tahun 2026 meningkat akibat guncangan harga minyak dari perang tadi.

Secara teknis, pasar terlihat sangat bullish. Di NYSE, saham yang naik mengalahkan yang turun dengan rasio 5,67 banding 1. Nasdaq juga menunjukkan tren serupa dengan rasio 3,05 banding 1. Volume perdagangan pun tinggi, mencapai 20,64 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari terakhir.

Jadi, meski ada secercah harapan dari gencatan senjata, pasar tetap menari di atas ketidakpastian. Investor bernapas lega untuk sementara, tapi mata mereka tetap tertuju ke Timur Tengah dan ruang rapat The Fed.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar