MURIANETWORK.COM - Kelompok Hamas menyampaikan pandangannya terkait rencana penempatan Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) di Gaza, sebuah inisiatif yang menempatkan Indonesia dalam posisi strategis sebagai wakil komandan. Pernyataan ini muncul menyusul pengumuman awal dari pertemuan "Dewan Perdamaian" yang digagas AS, yang mengonfirmasi komitmen sejumlah negara, termasuk Indonesia, untuk mengirimkan personel. Hamas menegaskan syarat utama mereka: pasukan tersebut harus berperan sebagai penjaga gencatan senjata yang netral, tanpa campur tangan dalam urusan internal Gaza.
Pernyataan Tegas Hamas Soal Peran Pasukan Internasional
Melalui juru bicaranya, Sami Abu Zuhri, Hamas secara resmi merespons rencana pembentukan ISF. Kelompok yang menguasai Jalur Gaza itu menyatakan posisinya telah jelas dan konsisten sejak awal.
"Posisi kami mengenai pasukan internasional sudah jelas," tegas Abu Zuhri. "Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza," lanjutnya.
Pernyataan tersebut menekankan garis merah yang tidak boleh dilanggar oleh pasukan asing manapun yang akan bertugas di wilayah tersebut. Hamas menuntut fungsi murni sebagai pemantau dan penjaga perdamaian, bukan sebagai kekuatan yang ikut mengatur pemerintahan atau tata kehidupan di Gaza.
Rencana Pembentukan dan Komitmen Indonesia
ISF, yang bertujuan merekrut sekitar 20.000 personel militer dan polisi, mendapatkan komitmen signifikan dari Indonesia. Dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington, diumumkan bahwa Indonesia tidak hanya akan berkontribusi pasukan, tetapi juga ditunjuk untuk menduduki posisi wakil komandan.
Artikel Terkait
Dewi Perssik Laporkan Penyalahgunaan Data Pribadi untuk Akun Palsu ke Polda Metro Jaya
Premanisme di Tanah Abang: Pedagang Bakso Jadi Sasaran, Polda Metro Jaya Janji Tindak Tegas
Prabowo: Dana Rp31,3 Triliun Hasil Penyelamatan Negara Dapat Perbaiki 34 Ribu Sekolah
Empat Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Kembali Boleh Bermain di Belanda