Gus Irfan Luncurkan Haji Ramah Perempuan, Petugas Wanita Ditambah Signifikan

- Rabu, 14 Januari 2026 | 11:12 WIB
Gus Irfan Luncurkan Haji Ramah Perempuan, Petugas Wanita Ditambah Signifikan

Untuk haji 2026 nanti, Kemenhaj punya konsep baru: 'Haji Ramah Perempuan'. Ini bukan sekadar jargon belaka. Salah satu wujud nyatanya adalah dengan menambah jumlah petugas haji perempuan dari berbagai latar bidang. Langkah ini diambil karena melihat fakta di lapangan jemaah haji Indonesia tiap tahunnya memang didominasi oleh kaum perempuan.

Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan menegaskan hal itu di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu (14/1).

"Kita tahun ini mengenalkan satu hal baru, haji ramah perempuan. Dan itu bukan cuma tagline. Kita putuskan untuk menambah petugas haji perempuan, petugas pembimbing ibadah perempuan. Materi-materi dalam kegiatan pun akan kita sisipkan dengan nuansa ramah perempuan," ujarnya.

Angkanya cukup signifikan. Tahun ini, petugas haji perempuan ditetapkan sebanyak 531 orang. Jumlah itu melebihi 30 persen dari total petugas. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang belum mencapai angka 30 persen. Intinya, pemerintah berupaya menghadirkan lebih banyak petugas perempuan serta layanan inti yang khusus. Tujuannya jelas: memberi rasa aman dan nyaman lebih besar bagi jemaah perempuan selama menjalankan ibadah.

Di sisi lain, kinerja seluruh PPIH akan dipantau ketat. Teknologi seperti sistem Kawal Haji akan digunakan agar pengawasan layanan berjalan transparan dan tentu saja, responsif. Harapannya, penyelenggaraan haji ke depan bisa memberikan aura berbeda. Sebuah tanda keberkahan dan peningkatan kualitas yang bisa dirasakan semua jemaah.

Cerita Toilet dan Pesan untuk Petugas

Dalam kesempatan yang sama, Gus Irfan juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh petugas. Ia meminta mereka bekerja dengan ketulusan dan tanggung jawab tinggi. Petugas harus benar-benar hadir untuk melayani, di segala situasi.

Gus Irfan lalu bercerita pengalaman pribadinya saat menjadi jemaah haji reguler pada 2008. Saat itu, ia menghadapi situasi sulit: satu lantai hotel tempatnya menginap tak ada air sama sekali.

"Tahun 2008 saya menjalankan haji reguler. Lokasi saya dekat jamarat, dan seperti biasa mendekati hari H Arafah, jalan-jalan ditutup. Air pun tak bisa masuk. Bayangkan, satu lantai hotel diisi ratusan orang, semua toilet tanpa air. Bagaimana baunya?" kenangnya.
"Hari ketiga atau keempat setelah Arafah, akhirnya air menyala. Tengah malam. Saya bangun, lihat semua keran menyala tapi air terbuang percuma. Saya datangi satu per satu, saya tutup. Kloset-kloset yang kotor berhari-hari itu saya gelontor sendiri. Satu lantai penuh," sambung Gus Irfan.

Dari cerita itu, ia berharap petugas bisa beradaptasi dengan kondisi apa pun. Kebiasaan baik harus dibawa dan diterapkan saat bertugas.

"Anda semua mewakili negara. Negara harus hadir di setiap situasi yang dihadapi jemaah kita. Saya tidak ingin lagi ada laporan petugas haji yang cuek di sana," pungkasnya tegas.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar