BANDUNG Sepak bola itu soal momentum. Dan Persib Bandung saat ini, rasanya, sedang menunggangi gelombang yang tepat.
Lima gol tanpa balas ke gawang Madura United di GBLA, Kamis malam lalu, bukan cuma soal tiga poin. Itu adalah pernyataan. Sebuah sinyal bahwa mesin Maung Bandung mulai berdetak stabil, persis di saat-saat paling genting dalam kompetisi.
Bojan Hodak, dari kejauhan, menyaksikan semuanya. Sang pelatih yang absen di pinggir lapangan karena akumulasi kartu itu melihat sesuatu yang mungkin lebih berharga dari angka gemilang di papan skor: kepercayaan diri yang kembali mengisi ruang ganti.
“Sangat bagus kami bisa menang besar. Penting bagi striker untuk mencetak gol karena mereka butuh kepercayaan diri,” ucap Hodak usai latihan Jumat malam.
Kalimatnya sederhana, tapi menyentuh inti. Dalam dunia pelatih, mental seorang penyerang sering jadi penentu ritme seluruh tim.
Dan lima gol itu, jujur saja, ibarat terapi. Serangan yang sempat terasa kaku dan terpaksa, tiba-tiba mengalir lebih natural. Pergerakan tanpa bola jadi lebih berani, eksekusi di depan gawang lebih tenang. Semua itu modal berharga, apalagi menyambut lawan seberat Persebaya Surabaya di kandang mereka nanti.
Surabaya? Itu ujian mental sebenarnya. Gelora Bung Tomo bukan stadion biasa. Tekanan suporter di sana bisa mengubah permainan teknis jadi duel emosional yang melelahkan.
Namun begitu, Persib datang dengan bekal yang berbeda. Kepercayaan diri itu lagi-lagi jadi kunci.
Dinamika internal tim juga patut dicermati. Kedatangan Sergio Castel rupanya memicu persaingan sehat. Tak ada lagi posisi yang benar-benar nyaman. Setiap pemain harus tunjukkan yang terbaik kalau ingin masuk starting eleven. Efeknya terasa sampai di lapangan. Pemain-pemain pengganti tak sekadar mengisi waktu, mereka langsung memberi dampak.
“Semua pemain pengganti memberikan dampak besar,” aku Hodak. “Kami tidak bisa hanya bergantung pada sebelas pemain pertama.”
Di sinilah kekuatan Persib mulai terbentuk: kedalaman skuad. Saat lawan kelelahan, mereka justru menaikkan tempo. Dominasi di menit-menit akhir jadi ciri khas baru mereka belakangan ini.
Nanti di Surabaya, ceritanya bakal lebih dari sekadar 22 pemain. Dua filosofi pelatih akan bentrok. Di satu sisi ada Hodak dengan fleksibilitas dan rotasi pemainnya. Di sisi lain, Bernardo Tavares pelatih Persebaya, dikenal dengan disiplin struktural dan organisasi tim yang rapat. Siapa yang bisa mengendalikan ritme permainan, dialah yang paling mungkin membawa pulang poin.
Tapi hati-hati dengan euforia. Hodak pasti paham, bahaya terbesar setelah kemenangan besar adalah rasa puas. Sepak bola Indonesia sudah terlalu sering mempertontonkan tim yang terjatuh justru saat ekspektasi memuncak. Fokus latihan Persib pun, konon, lebih diarahkan pada stabilitas, bukan selebrasi.
Konsistensi. Itu kata kuncinya sekarang. Setiap poin di fase ini terasa sangat berat. Laga melawan Persebaya bukan cuma duel gengsi, tapi pertarungan untuk mempertahankan momentum menuju penghujung musim.
Persib datang dengan optimisme yang baru dipupuk. Persebaya datang dengan beban tekanan sebagai tuan rumah. Di antara kedua hal itu, pertandingan dipastikan akan ketat dan panas sejak peluit awal dibunyikan.
Pertanyaannya sederhana: apakah momentum Persib cukup kuat untuk bertahan di bawah tekanan Surabaya? Jawabannya akan tersaji di Gelora Bung Tomo, Senin malam nanti. Saat dua filosofi bertabrakan, dan Persib harus buktikan bahwa pesta gol di Bandung bukan cuma kebetulan semata.
Artikel Terkait
Kurniawan Minta Maaf Usai Timnas U-17 Takluk dari Malaysia
Mantan Kiper Arsenal dan Austria, Alex Manninger, Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api
Nathan Tjoe-A-On Kembali Bermain Usai Kasus Paspor, Willem II Raih Kemenangan
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara