Dengan kalender tersebut, peringatan Nuzulul Quran untuk tahun 2026 akan jatuh pada Sabtu, 7 Maret. Tanggal inilah yang kemudian menjadi acuan resmi bagi instansi pemerintah dan sebagian besar masyarakat yang mengikuti keputusan sidang isbat.
Memahami Latar Belakang Perbedaan
Adanya dua tanggal peringatan ini bukanlah hal baru dalam dinamika keagamaan di Indonesia. Perbedaan tersebut bersumber dari metodologi penentuan yang masing-masing diyakini memiliki dasar kuat.
Muhammadiyah mengandalkan perhitungan hisab (astronomis) yang telah dipersiapkan jauh hari, sementara pemerintah melalui sidang isbat menggabungkan metode hisab dengan rukyat (pemantauan fisik hilal). Perbedaan ini kerap terjadi dan telah dipahami sebagai khazanah keilmuan dalam penentuan kalender Islam.
Terlepas dari perbedaan tanggal, semangat untuk memaknai momen Nuzulul Quran tetaplah sama. Bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan intensitas membaca, mempelajari, dan mengamalkan kandungan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Momentum ini mengingatkan kembali pada tujuan utama turunnya wahyu, yaitu sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil.
Artikel Terkait
Novel Baswedan Desak Pembentukan TGPF Independen untuk Kasus Penyekatan Andrie Yunus
Presiden Prabowo Janjikan Harga BBM Subsidi Tetap Terjangkau
Pemerintah Tanggung Kenaikan Biaya Avtur Haji 2026, Biaya Jemaah Tetap Turun
Prabowo Tegaskan Subsidi BBM Dipertahankan untuk 80 Persen Rakyat Miskin