Penolakan ini bukan sekadar formalitas. Ini sinyal kuat tentang posisi Vatikan: penyelesaian konflik harus mengedepankan hukum internasional dan hak asasi manusia, dan itu paling tepat dilakukan di bawah payung multilateral yang sudah ada. Membuat badan baru di luar PBB, di mata Vatikan, cuma akan bikin ruwet. Bisa memicu kebingungan dan memecah-belah upaya diplomasi yang sudah berjalan.
Nah, menariknya, Vatikan tidak sendirian bersikap hati-hati. Beberapa sekutu AS di Eropa, Italia contohnya, juga dilaporkan enggan terlibat penuh. Mereka lebih memilih untuk hadir sebagai pengamat saja, tidak sebagai anggota penuh dewan yang diusulkan Trump itu. Sikap ini menunjukkan ada keraguan yang lebih luas di kancah global.
Intinya, bagi Takhta Suci, jalan menuju perdamaian di Gaza tidak perlu dibangun dengan membuat jalur baru yang mungkin menabrak tiang. Lebih baik memperkuat jalan yang sudah ada, meski berlubang dan berliku.
Artikel Terkait
Wagub Kepri Perintahkan Rehabilitasi Total Waduk Sei Jago yang Rusak Parah
Transaksi SPKLU di Sulselrabar Melonjak 208% Saat Mudik Lebaran
Wamendagri Apresiasi Capaian Ekonomi Kepri, Soroti Perlu Optimalisasi Belanja Daerah
Tata Cara dan Keutamaan Sholat Dhuha, Ibadah Pagi yang Sarat Harapan