Mulai dari takjil di pinggir jalan sampai hidangan berat mewah di rumah, semua itu adalah ekspresi budaya. Kreativitas lokal yang merefleksikan identitas daerah masing-masing. Di sinilah nilai spiritual dan kearifan lokal bertemu, berpadu dalam keseharian.
Lebih jauh Fadli menyebut Ramadan sebagai momentum 'resetting' kehidupan. Tiga puluh hari untuk menyucikan diri, dibarengi kewajiban zakat, dan ditutup dengan saling memaafkan. Ritual yang komplet.
Ia pun mengajak seluruh jajaran untuk memaknai bulan ini sebagai ruang memperkuat tali silaturahmi sekaligus merayakan kekayaan budaya yang mewarnai tradisi Ramadan di Indonesia.
"Atas nama pribadi dan pimpinan, saya mengucapkan selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Semoga ibadah kita diberikan kemudahan, kesehatan, dan keberkahan," tutupnya.
Acara yang dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan dan pejabat eselon I itu kemudian ditutup dengan tausiyah. Ustaz Ricky Kurniawan memberikan ceramah penyejuk hati tentang makna Ramadan. Suasana pun kian khidmat.
Pada akhirnya, acara sederhana ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah deklarasi komitmen. Komitmen untuk merawat toleransi, mengokohkan kebersamaan, dan meneguhkan peran budaya sebagai perekat bangsa terutama di bulan yang penuh berkah ini.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Sidang Perdana Tiga Prajurit Kopassus Terkait Pembunuhan Kepala Bank
Arus Tol Menuju Jakarta Padat Usai Libur Panjang Paskah
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%