Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%

- Senin, 06 April 2026 | 08:15 WIB
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%

Harga plastik melonjak. Penyebabnya? Gangguan pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Padahal, kebutuhan kita akan plastik masih sangat tinggi, dan sayangnya, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhinya.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal April 2026 ini cukup jelas menggambarkan ketergantungan itu. Nilai impor plastik dan barang plastik kita pada Februari lalu mencapai angka fantastis: US$ 873,2 juta atau sekitar Rp 14,78 triliun. Angka itu mengalir dari berbagai negara.

China masih menjadi pemasok utama dengan nilai US$ 380,1 juta. Posisi berikutnya diisi Thailand (US$ 82,7 juta) dan Korea Selatan (US$ 66,7 juta). Namun, yang menarik perhatian adalah impor dari Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang masing-masing menyumbang US$ 29,9 juta dan US$ 14,9 juta. Belum lagi pemasok lain seperti Vietnam, Jepang, hingga Malaysia.

Lalu, bagaimana dampaknya di lapangan? Rasanya para pedagang di pasar tradisional yang paling merasakan getahnya.

Pedagang Pasar Menjerit!

Reynaldi Sarijowan dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Menurutnya, kenaikan harga plastik sudah mencapai level yang mengkhawatirkan, bahkan menyentuh 50%.

"Kami pantau sudah cukup lama. Saat masuk Ramadan saja harganya sudah mulai naik. Puncaknya sekarang, kenaikannya bisa sampai 50%," ujar Reynaldi.

Ia memberi contoh nyata. Plastik kresek yang biasa dibeli Rp 10.000 per pack, kini melambung jadi Rp 15.000. Jenis plastik lain juga ikut merangkak naik, dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000.

"Ini risikonya kalau kita masih tergantung impor. Dampak perang di Timur Tengah terasa serius di dalam negeri, dan kenaikan harganya sangat signifikan," imbuhnya.

Reynaldi menyebut para pedagang, terutama ibu-ibu, sudah mulai "teriak". Kenaikan biaya kemasan ini berpotensi besar mendorong harga jual barang dagangan mereka ikut naik.

"Emak-emak yang pakai plastik untuk dagangan tentu sudah teriak-teriak. Ini bisa bikin harga di pasaran ikut merangkak naik," tuturnya.

Memang, akar masalahnya ada pada minyak bumi. Sebagian besar plastik, seperti polyethylene (PE) dan polypropylene, adalah produk turunannya. Perang tidak hanya mendongkrak harga minyak, tapi juga mengacaukan rantai pasok global.

Kawasan Timur Tengah, yang jadi pemasok utama bahan baku plastik dunia, sedang bergejolak. Data S&P Global Energy menyebut kawasan ini menyumbang sekitar seperempat ekspor polyethylene dan polypropylene global. Konflik otomatis mengganggu semua itu.

Harrison Jacoby, seorang direktur di Independent Commodity Intelligence Services, memperkuat analisis ini.

"Sekitar 84% kapasitas polyethylene Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor via laut," katanya.

Jadi, jeritan para pedagang pasar itu bukan tanpa alasan. Ia adalah gema dari sebuah ketergantungan yang dampaknya merambat jauh, dari konflik global hingga ke lapak-lapak di pasar tradisional kita.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar