Ia melanjutkan dengan gambaran yang lebih naratif: dalam beberapa minggu ke depan, keluarga dan sahabat akan berkumpul di rumah atau masjid untuk berdoa. Setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, mereka akan berbuka dengan hidangan iftar yang tradisional. Carney menyebut Ramadan sebagai masa perenungan, rasa syukur, dan perayaan.
Namun begitu, pidatonya tak menghindar dari isu yang nyata. Carney secara khusus menyoroti masih adanya Islamofobia.
“Memerangi kebencian adalah prioritas utama pemerintah ini, dan Islamofobia tidak memiliki tempat di negara kami,” tegasnya. Inti dari menjadi warga Kanada, tambahnya, adalah keyakinan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan, keamanan, dan kesempatan untuk berkembang.
Pesan Carney ditutup dengan harapan agar Ramadan menjadi bulan yang diberkahi dan damai, serta ucapan “Ramadan Mubarak”.
Perlu dicatat, awal puasa sendiri tak seragam. Sejumlah negara Arab dan Muslim memulai Ramadan pada Rabu itu. Sementara negara lain, seperti Turki, Oman, Singapura, dan Australia, baru akan memulai puasa pada Kamis setelah otoritas setempat memastikan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi.
Ini memang hal yang kerap terjadi. Ramadan sebagai bulan kesembilan dalam kalender lunar Islam, penetapannya masih bervariasi. Sebagian negara bertahan pada metode pengamatan hilal secara langsung, sementara yang lain kini lebih mengandalkan perhitungan ilmiah terutama ketika pengamatan visual dinilai mustahil. Sebuah perbedaan metodologi yang sudah lama terjadi, namun tidak mengurangi makna spiritual bulan suci itu sendiri.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Sidang Perdana Tiga Prajurit Kopassus Terkait Pembunuhan Kepala Bank
Arus Tol Menuju Jakarta Padat Usai Libur Panjang Paskah
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%