Ipda I Nyoman Subamia Diusulkan ke Hoegeng Awards 2026 Atas Gerakan Pemberdayaan Petani Jahe

- Rabu, 18 Februari 2026 | 10:40 WIB
Ipda I Nyoman Subamia Diusulkan ke Hoegeng Awards 2026 Atas Gerakan Pemberdayaan Petani Jahe

"Cara penanamannya sama, tapi mungkin dari hasil itu yang berbeda, karena kalau jahe gajah itu pemeliharannya sangat gampang, terus hasilnya mungkin daripada jahe biasa itu 10 kali lipat lebih tinggi," ujar Subamia.

Dampak ekonominya terlihat nyata. Beberapa petani bahkan berhasil meraup keuntungan puluhan juta hingga miliaran rupiah dari satu kali masa panen, terutama saat harga melonjak selama pandemi. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup, tetapi juga berkontribusi mengurangi angka pengangguran dan potensi kriminalitas di wilayah tersebut.

"Kemarin itu ada saya arahkan satu orang itu sampai dapat Rp 1 M dia, karena produksinya dia dapat cuaca bagus, hasilnya bagus, harga bagus," lanjutnya.

Dari Lapangan ke Forum Ilmiah

Pengalaman empiris yang kaya membuat Ipda Subamia diakui keahliannya. Ia bahkan pernah dikirim untuk mengikuti pelatihan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini, ia rutin menjadi narasumber dalam program ketahanan pangan Polda Bali setiap musim tanam tiba.

"Memang kita sempat dikirim pelatihan ke Institut Pertanian Bogor dulu, tapi memang sebelumnya otodidak. Kita di Polda memang kita jadi narasumbernya, sudah lima tahun berjalan untuk program budidaya jahe gajah," jelas Subamia.

Keahliannya juga dipercaya untuk mendukung program ketahanan pangan tingkat nasional di tubuh Polri, salah satunya dengan menyiapkan lahan untuk budidaya jagung.

Sinergi dengan Akademisi untuk Pertanian Berkelanjutan

Aspek keberlanjutan menjadi perhatian penting. Ipda Subamia tidak hanya fokus pada hasil panen, tetapi juga kesehatan lahan. Untuk itu, ia menggandeng Universitas Mahasaraswati Denpasar mengembangkan pupuk kompos berbahan dasar kotoran ternak warga.

"Pupuk organik kita ambil dari peternak, dan kerja sama Universitas Mahasaraswati," ujarnya.

Pupuk kompos ini tidak diproduksi untuk dijual, melainkan diajarkan cara pembuatannya kepada setiap petani agar bisa memproduksi secara mandiri. Pembentukan kelompok tani semakin mempermudah koordinasi, mulai dari produksi, perawatan, hingga pemasaran hasil pertanian. Melalui penyuluhan yang kontinu, Ipda Subamia memastikan bahwa pengetahuan dan manfaat dari budidaya ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar