Ruwahan, Tradisi Jelang Ramadan yang Gaungkan Kesalehan Ekologis

- Rabu, 18 Februari 2026 | 09:05 WIB
Ruwahan, Tradisi Jelang Ramadan yang Gaungkan Kesalehan Ekologis

Bumi sebagai Sajadah Kehidupan

Filosofi yang digaungkan oleh Prof. Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama RI tentang bumi sebagai masjid yang luas memberikan perspektif segar. Jika setiap jengkal bumi adalah tempat sujud, maka merawat kebersihannya melalui Ruwahan menjadi bagian tak terpisah dari menjaga kesucian tempat ibadah itu sendiri.

Pendidikan karakter dalam tradisi ini berlangsung secara organik dan menyenangkan. Mulai dari ritual mencukur rambut anak di Grobogan sebagai simbol membuang penyakit, hingga warga Yogyakarta yang berbondong-bondong ke sumber air untuk padusan.

Menurut Azwar (2008), ini merupakan bentuk interaksi positif dengan alam. Ruwahan berhasil menjembatani teori pendidikan lingkungan dengan aksi nyata yang penuh makna dan kegembiraan komunitas.

Pada akhirnya, Ruwahan mengajarkan bahwa kesalehan sejati haruslah berwarna hijau. Ramadan bukan hanya momentum untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga untuk menahan diri dari segala perilaku yang merusak lingkungan. Tradisi tua ini mengajak kita memasuki bulan suci tidak hanya dengan hati yang bersih, tetapi juga dengan komitmen untuk menjaga kelestarian semesta.

Ibadah akan terasa lebih khusyuk dan bermakna ketika dilakukan di atas bumi yang asri, hijau, dan terawat. Selamat menyambut Ramadan dengan semangat merawat diri dan lingkungan.

Muhamad Jalil. Dosen Tadris Biologi Universitas Islam Negeri Sunan Kudus.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar