Melalui pendekatan itu, Polda Riau mengajak semua pihak di Meranti menjadi garda terdepan. Tujuannya jelas: merawat budaya lokal sekaligus menjaga kekayaan alam yang rapuh. Sinergi ini diharapkan bisa membangkitkan ekonomi kreatif, lewat pariwisata budaya yang bertanggung jawab.
"Melalui semangat Green Policing, kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat budaya, melindungi alam, dan memperkuat kesejahteraan bersama. Ini adalah bentuk nyata dari komitmen kita: Melindungi Tuah, Menjaga Marwah,"
imbuhnya.
Di sisi lain, kehadiran jajaran polisi di Bokor juga punya nilai strategis lain: memperkuat silaturahmi dengan warga jelang Ramadan. Suasana kekeluargaan yang tercipta selama festival menunjukkan bahwa hubungan baik antara aparat dan masyarakat adalah fondasi utama keamanan, terutama di wilayah perbatasan seperti ini.
Festival tahun ini boleh dibilang sukses besar. Di balik percikan air yang menyegarkan, tersimpan semangat kolektif untuk mempertahankan kedaulatan budaya dan kelestarian alam Meranti. Acara itu juga dihadiri sejumlah pejabat, seperti Kabid Humas Kombes Zahwani Pandra Arsyad, Dirkrimum Kombes Hasyim Risahondua, Dirpolair Kombes Apri Fajar Hermanto, serta Bupati Kepulauan Meranti Kombes (Purn) H. Asmar dan jajaran Forkopimda lainnya.
Semuanya larut dalam sukacita yang sama. Sebuah perayaan yang sederhana, namun maknanya mengalir jauh lebih dalam dari sekadar basah-basahan.
Artikel Terkait
Satria Muda Pertamina Bandung Tumbangkan Rajawali Medan dalam Drama Tipis 89-87
Hujan dan Angin Kencang di Bandung Tewaskan Satu Orang, 33 Pohon Tumbang
Tiga Dapur Makanan Bergizi Gratis di Kaimana Ditutup Sementara Gara-gara IPAL Tak Standar
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel