“Yang di sana, di batang pohon itu, dulu rumah saya.”
Mahdi, yang biasa disapa Adi, menoleh dan menunjuk ke sebuah titik. Suaranya datar, tapi matanya tajam. Sekarang, tak ada apa-apa di sana. Hanya kayu-kayu tumbang dan batu-batu besar yang teronggok, dibawa arus banjir bandang yang melanda Aceh Utara November lalu.
Telunjuknya bergerak lagi, tak jauh dari situ.
“Nah! Itu rumah bapak. Sebelah sana itu rumah saudara juga.”
Ia menunjuk ke tumpukan serupa. Lagi-lagi, yang terlihat hanya puing. Tapi cara Adi menatap, seolah ia masih bisa melihat dinding kayu dan atap rumah keluarganya. Seolah ia masih ingat persis letak setiap sudutnya. Sorot itu membuat siapa pun yang mendengarnya ikut menengok, meski tahu tak ada rumah yang tersisa.
Bagi Adi (40), melangkah ke bekas Dusun Lhok Pungki di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, selalu berat. Rindu dan pilu beradu. Ia rindu kehangatan orang tuanya, tapi yang ditemui hanya tanah lapang yang sunyi. Bahkan lebih perih dari itu: kuburan keluarganya pun hilang, hanyut terbawa banjir.
“Aku pun pulang, turun sini, mau lihat… nanti turun di sebelah sana itu kuburan… aku… tidak ada orang tua lagi.”
Suaranya tercekat, nyaris tak terdengar.
Artikel Terkait
Kolaborasi ITB dan IIDI Pasok Air Bersih untuk 1.000 Jiwa di Agam Pascabanjir
Macan Tutul Terjerat Perangkap Babi di Puncak, Dievakuasi ke Taman Safari
Serangan Udara AS-Israel Tewaskan Istri Mantan Menlu Iran di Teheran
BNPB Tinjau Kerusakan Gereja di Minahasa Pascagempa M7,6, Serahkan Bantuan Langsung