"Motif 'putus pertemanan' itu menunjukkan satu hal: konflik sosial di antara mereka bisa berkembang liar. Apalagi kalau tidak dibarengi kemampuan mengelola emosi, minim pendampingan orang dewasa, dan kurangnya pendidikan untuk menyelesaikan masalah secara sehat di sekolah," jelasnya lebih lanjut.
Namun begitu, yang membuat kasus ini masuk kategori mengerikan adalah eskalasinya. Dari sebuah konflik yang relatif sederhana, tiba-tiba berubah menjadi kekerasan terencana yang berakhir tragis.
"Ketika hal sederhana bisa meledak jadi pembunuhan, ini sudah darurat. Menunjukkan eskalasi kekerasan yang tidak proporsional dan kehilangan empati secara ekstrem," tegas Aris.
Kata-katanya menggambarkan sebuah kenyataan pahit. Di satu sisi, ada dunia remaja yang rentan; di sisi lain, ada potensi kekerasan yang bisa muncul dari hal-hal yang seringkali kita anggap remeh.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen