Lantas, apa yang ditelitinya? Ternyata cukup kompleks. Disertasinya mengangkat judul “Isomorfisme Kelembagaan terhadap Peran Pemolisian Komunitas di Era Digital: Perbandingan Teoretis dan Empiris Negara Indonesia, New Zealand, dan Jepang.” Intinya, ia menyelami bagaimana transformasi pemolisian komunitas terjadi di tengah gempuran teknologi digital, dengan membandingkan praktik di tiga negara tersebut. Kerja kerasnya membuahkan hasil: predikat cum laude yang menjadi bukti dedikasi selama ini.
Namun begitu, ia tak mau mengklaim ini sebagai prestasi pribadi. Dukungan keluarga, institusi Polri, dan para pembimbing akademik disebutnya sebagai pilar penting yang menyangga kesuksesannya. Ia juga berharap kisahnya bisa menginspirasi.
“Semoga pencapaian ini bisa memotivasi anggota Polri lain untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin,” harap Seala. “Apalagi kalau ada kesempatan beasiswa, ya, kenapa tidak dimanfaatkan?”
Di sisi lain, gelar doktor yang kini disandangnya bukan akhir dari perjalanan. Justru ini awal yang baru. Harapannya jelas: lahirnya gagasan-gagasan segar dan kontribusi strategis untuk memperkuat pemolisian modern. Dengan landasan ilmu pengetahuan, kualitas pelayanan Polri di era digital diharapkan bisa semakin meningkat dan tepat sasaran. Prestasi Kompol Seala membuktikan, polwan punya ruang untuk berprestasi setinggi langit.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen