katanya usai acara pelantikan. Pernyataan itu sekaligus jadi sinyal bahwa masukan dari komunitas bisa saja diterjemahkan ke dalam program dan anggaran daerah.
Dari sisi eksekutif, Kepala Dinas Pariwisata Banten Eli Susiyanti punya pandangan senada. Baginya, urusan mengembangkan ekonomi kreatif bukanlah pekerjaan satu pihak. Harus ada kolaborasi total. "Kita tidak bisa berdiri sendiri. Harus berkolaborasi dan bersinergi seluruh elemen," kata Eli, menyebut peran pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga akademisi.
Ia juga membeberkan fakta menarik. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada, baru tiga yang benar-benar menonjol di Banten: kuliner, fashion, dan kriya. Artinya, masih ada 14 subsektor lain yang potensinya belum tergarap maksimal. "Masih banyak peluang untuk mendongkrak perekonomian Banten," ungkapnya.
"Walaupun ada kendala, kalau dikerjakan bersama kita optimistis bisa naik,"
tambah Eli. Optimisme itu, tentu saja, bergantung pada satu hal: seberapa serius semua pihak mendengar dan mewujudkan keluhan tentang fasilitas yang selama ini menjadi ganjalan.
Artikel Terkait
1 April: Harsiarnas, Hari Bank Dunia, dan Lupus Alert Day di Balik April Mop
Rembesan Air Keras di Mata Korban Penyiraman Baru Terdeteksi, Ancaman Kebutaan Permanen
Prabowo Sampaikan Apresiasi dan Komitmen Perkuat Hubungan dengan Jepang
Sidang Korupsi Proyek Satelit Kemenhan 2012-2021 Dimulai, Satu Terdakwa Buron