Industri film kita lagi di ujung tanduk, gitu kesan yang saya tangkap dari pernyataan anggota DPR Novita Hardini. Nggak tanggung-tanggung, dia bilang kita lagi di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada momentum kejayaan yang terasa banget akhir-akhir ini. Tapi di sisi lain, ancaman yang sifatnya struktural juga mengintip cukup serius.
Politikus dari PDIP itu ngomong, kondisi kayak gini jelas butuh solusi. Dan solusinya nggak bisa setengah-setengah.
“Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan jadi nostalgia, bukan masa depan,”
begitu tegas Novita, Senin kemarin. Pernyataannya itu langsung ke inti persoalan. Menurut dia, negara wajib hadir untuk ngasih perlindungan ke industri film lokal. Kehadiran yang penuh, bukan sekadar wacana.
Nah, soal langkah konkret, Novita yang juga dikenal sebagai bintang film 'Buya Hamka' ini menyoroti peran Panitia Kerja atau Panja Industri Film di DPR. Panja ini, dalam pandangannya, harus jadi instrumen serius. Tugasnya berat: membenahi ekosistem film dari hulu ke hilir dan yang nggak kalah penting, melindungi hak cipta para kreator. Pembiayaan industri juga harus diperkuat, biar nggak mandek di tengah jalan.
Artikel Terkait
Bea Cukai Malang Dampingi Perusahaan Lokal Percepat Perizinan Cukai
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Volume Kendaraan Tembus Rekor
Herdman: Kemenangan di FIFA Series Bukan Harga Mati, Fondasi untuk 2030 Lebih Penting
Menteri ESDM Tegaskan Stok Energi Nasional Aman di Tengah Konflik Global