Beijing Bergerak di Ruang yang Ditinggalkan Washington

- Selasa, 03 Februari 2026 | 14:55 WIB
Beijing Bergerak di Ruang yang Ditinggalkan Washington

“Pemerintah Cina mencoba menilai apa yang bisa mereka peroleh dari masing-masing rezim,” kata Sabine Mokry, peneliti dari Institute for Peace Research and Security Policy Universitas Hamburg.

Hasilnya bisa dilihat, misalnya, di Majelis Umum PBB. Cina semakin sering sejalan dengan sekutunya dalam pemungutan suara, terutama terkait isu hak asasi manusia dan Ukraina. Namun begitu, Mokry menilai kemitraan ini lebih bersifat transaksional. Didorong oleh penentangan bersama terhadap AS, bukan karena kesamaan nilai.

“Kalau ada kesempatan untuk menunjukkan kesan kerja sama, ya akan dimanfaatkan,” ujarnya. “Tapi secara substansi, ketidakpercayaan mendalam masih ada.”

Benarkah Cina Ingin Gantikan Posisi AS?

Narasi yang Beijing usung jelas: mereka adalah kekuatan stabilisator yang bertanggung jawab, berbanding terbalik dengan “hegemoni” Amerika Serikat. Tapi, menurut para pengamat, ambisi utama Cina bukanlah mengganti tatanan dunia yang dipimpin AS dengan versi mereka sendiri.

Tujuannya lebih ke dalam: memastikan kelangsungan kekuasaan Partai Komunis Cina.

“Ini bukan ambisi menguasai dunia,” tegas Mokry. Semua harus dilihat dari sudut pandang kelangsungan rezim. Ia mengingatkan masa kepresidenan pertama Trump (2016-2020), saat AS juga menarik diri dari banyak organisasi. Saat itu, meski ada ekspektasi Cina akan mengisi kekosongan, Beijing sebagian besar memilih untuk tidak mengambil alih.

Pendapat Soong senada. Cina kecil kemungkinan memimpin semua lembaga yang ditinggalkan AS, kecuali jika hal itu benar-benar sejalan dengan kepentingan keamanan nasionalnya. Contohnya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana pengaruh Cina memastikan Taiwan tetap dikecualikan alasan yang berulang kali dikemukakan AS untuk menarik diri dari badan PBB itu.

Fokus Regional: Mendorong AS Keluar dari Asia

Jadi, kalau bukan mendominasi global, apa yang sebenarnya diinginkan Beijing? Analis melihat pola yang lebih jelas: mengurangi pengaruh Amerika Serikat di kawasan yang dianggap vital, khususnya Asia-Pasifik.

Beberapa bulan terakhir, aktivitas militer Cina di sekitar Taiwan dan Laut Cina Selatan meningkat. Ketegangan dengan Filipina soal klaim wilayah pun memanas.

“Beijing akan sangat senang jika mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan di Asia,” kata Mokry.

Tapi ia mengingatkan, kehadiran AS di kawasan itu masih sangat fundamental. “Tidak mudah untuk diubah,” tambahnya.

Jadi, pergeseran kekuatan global ini bukan soal pergantian pemimpin tunggal. Ini lebih seperti permainan strategis yang rumit, di mana Cina dengan hati-hati memilih medan tempurnya, sambil memastikan pondasi kekuasaan di dalam negeri tetap kokoh.


Halaman:

Komentar