Beijing Bergerak di Ruang yang Ditinggalkan Washington

- Selasa, 03 Februari 2026 | 14:55 WIB
Beijing Bergerak di Ruang yang Ditinggalkan Washington

Panggung global sedang berubah. Sementara Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Trump, memilih untuk mundur dari berbagai lembaga internasional, Cina justru tampil dengan cara yang berbeda. Mereka aktif berkunjung, menjamu tamu, dan perlahan tapi pasti membidik posisi kepemimpinan di sejumlah bidang.

Ambil contoh Januari lalu. Di bulan yang sama ketika Washington mengumumkan penarikan diri dari puluhan organisasi multilateral, Beijing justru ramai. Para pemimpin dari Kanada, Finlandia, hingga Inggris datang bertandang.

“Tatanan internasional sedang berada di bawah tekanan besar,” ujar Presiden Xi Jinping kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pertemuan mereka akhir Januari.

Xi menyerukan upaya untuk “membangun dunia multipolar yang setara dan tertib.”

Pesan itu sebenarnya bukan hal baru. Tapi, dalam konteks sekarang, di mana Amerika Serikat semakin enggan terlibat, seruan Cina terdengar lebih keras dan lebih sering diulang. AS diketahui meninggalkan banyak inisiatif soal iklim, ketenagakerjaan, dan migrasi yang oleh Trump disebut sebagai agenda “woke” dan bertentangan dengan kepentingan nasional.

Nah, di sisi lain, Cina tetap bertahan. Mereka masih menjadi anggota di sebagian besar organisasi itu. Dan yang menarik, pengakuan global terhadap mereka tampaknya meningkat. Sebuah survei dari European Council on Foreign Relations menunjukkan, responden di 21 negara termasuk sepuluh anggota Uni Eropa memperkirakan pengaruh Cina akan terus menguat dalam sepuluh tahun ke depan.

“Dulu jarak kekuatan antara Cina dan AS jauh lebih jelas,” kata Claus Soong, analis dari Mercator Institute for China Studies (MERICS) di Berlin. “Sekarang semakin mendekat. AS masih yang terkuat, tapi Cina mengejar dengan cepat sekali.”

Merangkul Global South: Strategi Lama yang Tetap Relevan

Negara-negara berkembang dan ekonomi menengah sering disebut Global South memang sudah lama jadi sasaran diplomasi Cina. Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang diluncurkan 2013 adalah contoh paling nyata: program infrastruktur raksasa untuk memperluas jejak dari Asia hingga Amerika Latin.

“Seorang pemimpin butuh pengikut,” jelas Soong. Dukungan dari Global South, katanya, adalah “titik penentu” bagi Beijing saat berhadapan dengan tekanan dari Barat.

Data ekonomi awal tahun ini juga memberi angin segar bagi narasi Cina. Mereka melaporkan pertumbuhan 5% dan surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarah didorong terutama oleh ekspor ke pasar di luar AS, seperti Asia Tenggara. Tapi, strategi ini punya risiko. Beberapa tahun belakangan, proyek BRI skala besar dan berisiko tinggi mulai dikurangi, beralih ke investasi yang lebih kecil dan terfokus. Kekhawatiran soal utang dari negara mitra jadi salah satu alasannya.

“Ekonomi adalah pertanyaan kunci,” tandas Soong. “Seberapa berkelanjutan? Dan apa lagi yang bisa Cina tawarkan ke negara lain?”

Koordinasi Antar Rezim: Kekhawatiran Baru?

Hubungan dekat Cina dengan Rusia dan Korea Utara menimbulkan pertanyaan lain. Apa dampak dari kerja sama antar rezim otoriter ini di panggung global?

Parade militer di Beijing tahun lalu menjadi panggung penegasan. Xi Jinping berdiri bersama para pemimpin dari Moskow dan Pyongyang, menunjukkan keselarasan di bidang politik dan keamanan.


Halaman:

Komentar