Di ruang rapat Komisi VIII DPR, Senayan, Selasa lalu, keluhan itu akhirnya meluncur juga. Letjen Suharyanto, sang Kepala BNPB, mengaku kesulitan. Bukan karena bencana yang tak henti datang, tapi justru soal dana untuk mencegahnya. Anggaran untuk mitigasi dan pencegahan bencana di Indonesia, menurutnya, sangat terbatas.
"Yang jadi tantangan kami ya dari segi anggaran," ujar Suharyanto.
Dia membeberkan angka yang menurutnya jauh dari memadai. "Dalam lima tahun terakhir, anggaran pencegahan BNPB ini relatif sangat terbatas. Setiap tahun, untuk mitigasi bencana cuma berkisar Rp 17 sampai 19 miliar saja."
Angka segitu, tentu saja, sangat kecil. "Tapi kami tidak bisa cuma mengeluh lalu tidak bekerja," sambungnya, mencoba menegaskan semangat timnya di tengah keterbatasan yang nyata.
Memang, kalau dibandingkan dengan kebutuhan ideal untuk membangun kesiapsiagaan bangsa yang rawan bencana, nilai itu ibarat setetes air di lautan. Namun begitu, BNPB tak tinggal diam. Mereka terus mencari celah dan peluang. Salah satu jalannya adalah dengan mengupayakan pinjaman luar negeri.
"Alhamdulillah, ada beberapa yang sudah disetujui dalam lima tahun terakhir. Pinjaman luar negeri ini tujuannya untuk meningkatkan kemampuan kami di fase prabencana," jelas Suharyanto.
Selain itu, ada juga dana siap pakai yang biasa dikerahkan saat status siaga atau tanggap darurat berlaku di suatu wilayah. Dana ini menjadi penopang saat bencana sudah terjadi. Tapi upayanya tak berhenti di situ. Setelah masa pemulihan, BNPB juga berusaha membangun ketahanan daerah agar lebih siap menghadapi ancaman di masa depan.
Dan kabar terbarunya, ada secercah harapan untuk tahun depan. Suharyanto menyebut bahwa Indonesia akan mendapat pinjaman dari Pemerintah Spanyol. Fokusnya khusus untuk memperkuat mitigasi.
"Untuk 2026, kami baru disetujui oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk mendapat pinjaman dari Spanyol. Titik beratnya meningkatkan kesiapan BNPB menghadapi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem," paparnya.
Jadi, meski dana terbatas, upaya penguatan tetap digenjot. Salah satunya dengan meningkatkan kemampuan daerah dalam mendeteksi ancaman, misalnya lewat pengukuran tinggi muka air. Sebuah langkah kecil yang diharapkan bisa meredam bencana besar.
Artikel Terkait
Macron Kecam Serangan di Selat Hormuz yang Lukai Awak Kapal Prancis
IP Expo Indonesia 2026 Kembali Digelar, Targetkan Kemitraan Strategis di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Kekayaan Intelektual
Kenaikan Yesus Kristus 2026 Jatuh pada 14 Mei, Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama
Kapal Pesiar Belanda Terisolasi di Tanjung Verde Akibat Wabah Hantavirus, Tiga Tewas