Di ruang rapat Komisi VIII DPR, Senayan, Selasa lalu, keluhan itu akhirnya meluncur juga. Letjen Suharyanto, sang Kepala BNPB, mengaku kesulitan. Bukan karena bencana yang tak henti datang, tapi justru soal dana untuk mencegahnya. Anggaran untuk mitigasi dan pencegahan bencana di Indonesia, menurutnya, sangat terbatas.
"Yang jadi tantangan kami ya dari segi anggaran," ujar Suharyanto.
Dia membeberkan angka yang menurutnya jauh dari memadai. "Dalam lima tahun terakhir, anggaran pencegahan BNPB ini relatif sangat terbatas. Setiap tahun, untuk mitigasi bencana cuma berkisar Rp 17 sampai 19 miliar saja."
Angka segitu, tentu saja, sangat kecil. "Tapi kami tidak bisa cuma mengeluh lalu tidak bekerja," sambungnya, mencoba menegaskan semangat timnya di tengah keterbatasan yang nyata.
Memang, kalau dibandingkan dengan kebutuhan ideal untuk membangun kesiapsiagaan bangsa yang rawan bencana, nilai itu ibarat setetes air di lautan. Namun begitu, BNPB tak tinggal diam. Mereka terus mencari celah dan peluang. Salah satu jalannya adalah dengan mengupayakan pinjaman luar negeri.
Artikel Terkait
Tiga Kabupaten di Aceh Masih Berstatus Tanggap Darurat Meski Fase Pemulihan Sudah Dimulai
Setelah Dengar Janji Prabowo, MUI Balik Arah Dukung Indonesia Masuk Dewan Perdamaian
Jembatan Baru di Sri Meranti: Dari Kayu Lapuk Jadi Beton Kokoh untuk 250 Keluarga
200 Kg Ganja Digagalkan di Langkat, Tiga Kurir Diamankan