Kepala Desa Pa' Betung, Aprem Rining, membenarkan aksi itu murni datang dari rasa jenuh warga dan pelajar. "Itu inisiatif dari hati nurani mereka sendiri," katanya.
Ia menggambarkan keseharian yang sulit. "Setiap hari mereka harus melewati jalan itu untuk ke sekolah, perjalanannya bisa satu jam. Motor sering amblas, bahkan mereka sering harus jalan kaki tanpa sepatu karena lumpur terlalu dalam," ujar Aprem, Minggu (1/2/2026).
Dalam aksinya, mereka menyiapkan surat terbuka berisi empat poin tuntutan. Isinya mulai dari pemenuhan hak dasar, tuntutan keadilan pembangunan jalan dari APBN, percepatan komitmen pemerintah, hingga permintaan agar pemerintah turun langsung melihat kondisi, bukan hanya melihat Krayan dari atas peta.
Menurut Aprem, ini soal prioritas. "Warga sebenarnya tidak menolak program pemerintah pusat," jelasnya. Namun, dengan hasil bumi yang melimpah, urusan makan dirasa sudah cukup. "Alangkah baiknya anggaran makan gratis itu kalau bisa dialihkan atau diutamakan untuk membangun jalan dulu. Kami ingin pembangunan yang merata seperti di Jawa," tegasnya.
Sebuah aksi sederhana di jalan berlumpur. Tapi pesannya jelas dan menyentuh: sebelum bicara gizi, berikan kami akses yang layak.
Artikel Terkait
Bahar bin Smith Resmi Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan Banser
Masjid Jadi Titik Terang di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua
Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Jadi Sorotan Gedung Putih
KPK Periksa Penilai Pajak dan Staf Perusahaan Terkait Dugaan Suap di Kantor Pajak Jakarta Utara