Di sisi lain, harapan pun mengembang. Dahlawi, Kepala Bidang Sarana Prasarana Disdik Aceh, menyebut ini sebagai titik terang. Bencana sempat merusak hampir separuh SMK dan SLB di provinsi tersebut.
Harapan serupa datang dari lapangan. Faisal, Kepala SMK Ummul Ayman 2 di Pidie Jaya, mengaku seluruh ruang kelas dan praktik di sekolahnya rusak. Selama ini, kegiatan belajar mengajar terpaksa dialihkan ke ruang darurat.
Rindu akan kenyamanan juga dirasakan oleh para siswa. Seperti Alfrizi Maulana, murid kelas 11 di SMK yang sama. Ia mengeluh karena tak bisa lagi praktik, lantaran kolam ikan dan sistem bioflok milik sekolah hancur diterjang banjir.
Sementara itu, bagi Suprananta, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, kabar penandatanganan ini adalah sebuah kelegaan. Sekolahnya yang rusak parah kini punya jalan untuk dibangun kembali, meski saat ini 260 muridnya sudah mulai aktif belajar di kelas darurat.
Jadi, meski prosesnya masih panjang, setidaknya sekarang ada fondasi yang jelas. Langkah pertama untuk mengembalikan senyum dan semangat belajar di Aceh sudah diambil.
Artikel Terkait
Mobil Hangus Terbakar Usai Tabrakan di Tol Jagorawi, Diduga Diawali Adu Kecepatan
Jenderal Israel Terbang Diam-diam, Desak AS Serang Iran dalam Dua Bulan
Jalan Berlumpur, Suara Lantang: Bocah SMP di Perbatasan Tuntut Presiden Perbaiki Infrastruktur
Jamur Halusinogen Yunnan: Misteri Kurcaci yang Mengintai di Balik Makanan Lezat