Di sisi lain, harapan pun mengembang. Dahlawi, Kepala Bidang Sarana Prasarana Disdik Aceh, menyebut ini sebagai titik terang. Bencana sempat merusak hampir separuh SMK dan SLB di provinsi tersebut.
Harapan serupa datang dari lapangan. Faisal, Kepala SMK Ummul Ayman 2 di Pidie Jaya, mengaku seluruh ruang kelas dan praktik di sekolahnya rusak. Selama ini, kegiatan belajar mengajar terpaksa dialihkan ke ruang darurat.
Rindu akan kenyamanan juga dirasakan oleh para siswa. Seperti Alfrizi Maulana, murid kelas 11 di SMK yang sama. Ia mengeluh karena tak bisa lagi praktik, lantaran kolam ikan dan sistem bioflok milik sekolah hancur diterjang banjir.
Sementara itu, bagi Suprananta, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, kabar penandatanganan ini adalah sebuah kelegaan. Sekolahnya yang rusak parah kini punya jalan untuk dibangun kembali, meski saat ini 260 muridnya sudah mulai aktif belajar di kelas darurat.
Jadi, meski prosesnya masih panjang, setidaknya sekarang ada fondasi yang jelas. Langkah pertama untuk mengembalikan senyum dan semangat belajar di Aceh sudah diambil.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka