Jamur Halusinogen Yunnan: Misteri Kurcaci yang Mengintai di Balik Makanan Lezat

- Senin, 02 Februari 2026 | 10:40 WIB
Jamur Halusinogen Yunnan: Misteri Kurcaci yang Mengintai di Balik Makanan Lezat

Setiap tahun, di sebuah rumah sakit di Provinsi Yunnan, China, ada fenomena yang nyaris jadi ritual. Dokter-dokter bersiap. Mereka tahu, bakal ada gelombang pasien dengan keluhan yang terdengar seperti cerita fiksi. Gejalanya selalu aneh dan spesifik: melihat sosok-sosok kecil, mirip kurcaci, yang merayap di bawah pintu, menempel di dinding, atau berkeliaran di atas perabotan.

Penyebabnya selalu satu: jamur Lanmaoa asiatica. Rumah sakit itu menangani ratusan kasus serupa tiap tahunnya. Jamur ini sebenarnya makanan lokal yang populer, punya rasa gurih dan umami yang kaya. Ia hidup bersimbiosis dengan pohon pinus di hutan sekitar.

Di Yunnan, L. asiatica mudah ditemui. Ia menghiasi pasar, muncul di menu restoran, dan disajikan di rumah-rumah saat musimnya tiba antara Juni dan Agustus. Tapi ada satu aturan utama: jamur ini harus dimasak sampai benar-benar matang. Kalau tidak? Halusinasi siap menyambang.

Colin Domnauer, kandidat doktor biologi dari Universitas Utah, pernah merasakan sendiri peringatan itu. Saat berkunjung ke sebuah restoran hot pot jamur di sana, seorang pelayan dengan serius mengatur timer selama 15 menit.

"Sepertinya hal ini sudah jadi pengetahuan umum di budaya setempat," ujar Domnauer, yang kini tengah meneliti jamur tersebut.

Ia terdorong oleh rasa penasaran yang besar. Tujuannya: memecahkan misteri bertahun-tahun tentang senyawa apa dalam jamur ini yang bisa memicu halusinasi yang begitu aneh dan konsisten, serta apa yang bisa kita pelajari tentang otak manusia darinya.

Domnauer pertama kali dengar tentang L. asiatica saat masih jadi mahasiswa S1.

Literatur akademis memberikan beberapa petunjuk awal. Sebuah artikel tahun 1991 dari peneliti Akademi Ilmu Pengetahuan China menggambarkan kasus-kasus di Yunnan dimana orang mengalami "halusinasi Lilliputian" setelah menyantap jamur tertentu. Istilah psikiatri itu diambil dari orang-orang kecil di Pulau Lilliput dalam novel Gulliver's Travels.

Para pasien melaporkan melihat makhluk-makhluk mini "berkeliaran di mana-mana", biasanya lebih dari sepuluh sekaligus.

Fenomena serupa ternyata bukan cuma di China. Pada 1960-an, penulis Amerika Gordon Wasson dan botanis Prancis Roger Heim yang memperkenalkan jamur psilocybin ke dunia Barat menemukan laporan mirip dari Papua Nugini. Penduduk setempat menyebut kondisi akibat jamur tertentu sebagai "kegilaan jamur".

Mereka mengumpulkan spesimen dan mengirimkannya ke Albert Hofmann, kimiawan penemu LSD. Tapi Hofmann gagal mengidentifikasi molekul aktifnya. Akhirnya, tim itu menyimpulkan cerita-cerita itu hanya mitos budaya tanpa dasar farmakologis. Penelitian pun terhenti.

Baru pada 2015, L. asiatica secara resmi dideskripsikan dan dinamai, meski sifat psikoaktifnya masih gelap.

Domnauer lalu memutuskan untuk turun langsung. Di puncak musim panas 2023, ia pergi ke Yunnan. Di pasar jamur yang luas, ia bertanya pada penjual tentang jamur yang "membuat Anda melihat orang-orang kecil". Penjual yang tertawa lalu menunjuk satu jenis. Domnauer membelinya, membawa spesimen itu ke lab, dan mengurutkan genomnya. Hasilnya mengonfirmasi: itu memang L. asiatica.


Halaman:

Komentar