Prabowo Tutup Keran Ekspor Jelantah, Fokus Sawit untuk Kedaulatan Energi

- Senin, 02 Februari 2026 | 11:55 WIB
Prabowo Tutup Keran Ekspor Jelantah, Fokus Sawit untuk Kedaulatan Energi

Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto mengangkat topik yang menurutnya sangat strategis: potensi luar biasa dari kelapa sawit. Tanaman ini, menurutnya, bukan sekadar penghasil minyak makan biasa.

“Makanan, roti, harus pakai minyak kelapa sawit, dan sebagainya,” ujarnya.

Dia lalu menyentil soal sabun. “Sabun berapa miliar rakyat dunia harus mandi tiap hari kecuali yang malas mandi,” candanya, sebelum berkelakar tentang kebiasaan pasukan khusus. “Kadang-kadang pasukan komando mandinya sekali dua minggu ini kalau di hutan nggak boleh mandi.”

Namun begitu, fokus utamanya bukan pada produk sehari-hari itu. Ada hal yang jauh lebih besar. Menurut Prabowo, kelapa sawit adalah kunci untuk melepaskan ketergantungan energi Indonesia dari luar negeri.

“Tapi yang lebih utama, dari kelapa sawit kita bisa bikin solar,” tegasnya.

Gagasannya jelas. Dengan mengembangkan biodiesel atau biosolar, Indonesia bisa lebih mandiri. “Jadi kita nanti biodiesel, biosolar itu akan membuat kita bebas dari ketergantungan luar,” paparnya. Dia memberi kelonggaran bagi yang tetap ingin menggunakan bensin, dengan nada sedikit sinis. “Yang mau pakai bensin terus silakan, orang kaya bayar aja nggak apa-apa harga dunia. Tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar.”

Tak berhenti di situ, Presiden juga menyoroti pemanfaatan limbah. Minyak jelantah, yang sering diabaikan, ternyata bisa diolah menjadi bahan baku avtur. Ini yang membuatnya mengambil langkah tegas.

“Limbahnya kelapa sawit, jelantah itu, bahan untuk avtur,” jelasnya.

Karena itu, dia memutuskan untuk menahan komoditas itu di dalam negeri. “Sehingga maaf bangsa-bangsa lain saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit, ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu,” tutur Prabowo dengan nada tegas.

Pidato itu menunjukkan arah kebijakannya: memaksimalkan sumber daya dalam negeri, mulai dari produk utama hingga limbahnya, untuk kedaulatan energi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler