Serangan terbaru yang menewaskan puluhan warga sipil ini, baginya, juga jadi alarm keras. Terutama untuk lembaga baru Board of Peace (BoP) yang diharapkan bisa mendatangkan perdamaian di Palestina. BoP harus bertindak tegas.
"Ini jelas ujian bagi BoP, dan khususnya buat Trump sebagai inisiator," kata Sukamta.
Dia melanjutkan, ketika lembaga internasional lain terlihat lumpuh menghadapi kejahatan Israel, banyak yang memandang BoP sebagai terobosan potensial.
"Langkah paling dinantikan ya penghentian semua kekerasan Israel terhadap warga sipil. Plus, bantuan kemanusiaan harus segera dibuka seluas-luasnya untuk Gaza."
"Setiap inisiatif perdamaian akan jadi omong kosong belaka jika tak mampu mencegah pemboman terhadap pengungsi dan anak-anak," sambungnya tegas.
Sebelumnya, Israel memang melancarkan gelombang serangan udara ke Gaza. Korban berjatuhan: 32 orang tewas. Menurut laporan BBC, Minggu (1/2/2026), badan pertahanan sipil Hamas menyebut di antara korban ada anak-anak dan perempuan. Serangan pada Sabtu (31/1) itu menyasar tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan, dengan helikopter tempur.
Bagi warga Palestina, ini adalah serangan terberat sejak fase kedua gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025. Fase yang seharusnya membawa ketenangan, justru diwarnai duka yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Golkar Tolak Usulan Penghapusan Parliamentary Threshold, Sebut Kunci Penyelamat Pemerintahan
Rencana Gelap Epstein: Incar Aset Libya yang Membeku dengan Bantuan Intelijen
Dari Pemalang ke Hollywood: Kisah Udeh Nans, Otak di Balik Adegan Laga yang Mematikan
Keluarga Bahar Kaget, Polisi Tetapkan Habib Bahar Tersangka Pengeroyokan Anggota Banser