Dunia film laga tak cuma soal bintang utama. Di balik adegan-adegan spektakuler yang memukau, ada sosok seperti Udeh Nans. Sebagai stunt coordinator, dialah otak yang merancang segala kejar-kejaran mobil mencekam, tabrakan dahsyat, hingga koreografi pertarungan yang mematikan. Tak hanya itu, adegan ekstrem seperti tubuh terbakar pun masuk dalam wilayah kerjanya. Semua dirancang agar terlihat nyata, namun tetap aman setidaknya, semampu mungkin.
Rekam jejaknya panjang. Udeh sudah terlibat dalam banyak film besar, baik lokal maupun internasional. Sebut saja duologi The Raid, Grisse, hingga film komedi Agak Laen. Baru-baru ini, namanya juga tercatat di Monkey Man, Tinggal Meninggal, dan Sore: Istri dari Masa Depan. Daftarnya masih panjang, menunjukkan betapa ia dipercaya di industri.
Tapi, jauh sebelum dikenal sebagai Udeh Nans, ia hanyalah seorang bocah dari Pemalang bernama Saifuddin Mubdy. Anak pemilik toko bangunan ini punya kegemaran sederhana: menonton film. Nah, suatu hari, The Terminator tahun 1984 menghampirinya. Film itulah yang pertama kali membukakan pintu imajinasinya pada dunia stunt. Sejak saat itu, cita-cita itu melekat dan tak pernah ia lepaskan.
Perjalanan menuju mimpi itu tentu tak mulus. Awal 2000-an, Udeh nekat merantau ke Jakarta. Tanpa sepengetahuan keluarganya, ia meninggalkan pekerjaan tetapnya di dunia perhotelan. Hidup sebagai stuntman pun dimulai, dimulai dari bergabung dengan sebuah rumah produksi. Modal nekat dan semangat adalah segalanya.
Lambat laun, wajahnya mulai muncul di berbagai sinetron laga Indonesia era itu. Cinta Terlarang atau Jangan Salahkan Aku mungkin masih diingat sebagian orang. Di sana, Udeh kerap jadi pihak yang terpukul, terlempar, atau bahkan ditabrak kendaraan. Itu semua dilakoninya dengan sungguh-sungguh.
Jam terbangnya bertambah, dan begitu pula cedera yang ia kumpulkan. Leher nyaris patah, bahu kerap dislokasi, belum lagi cedera lutut dan tulang rusuk. Semua itu ia jalani dengan santai saja. Gaji waktu itu? Cuma Rp150 ribu sebulan, ditambah uang makan lima belas ribu rupiah per hari. Tapi bagi Udeh masa itu, itulah hidup. Itu dunia yang ia pilih.
"Ya itu tahun 2005. Kondisi saya juga numpang di kantor PH-nya. Tidur hanya beralaskan koran, bantalnya itu ya pakai tas saya itu. Saya bujangan, tidak punya tanggungan, ya kan?"
Namun begitu, rasa nyaman itu perlahan pudar. Ia mulai sadar, kariernya mandek di tempat. Usia terus bertambah, sementara upah bulanan yang dulu ia terima dengan riang, jelas tak lagi cukup untuk menghidupi diri ke depannya. Ada kegelisahan yang mengendap.
Dari situlah tekadnya muncul. Udeh memutuskan untuk naik kelas, beralih dari stuntman menjadi stunt coordinator. Bertahun-tahun ia mengasah ilmu, sambil tetap bekerja. Tabungan dari keringatnya itu akhirnya membawanya ke Australia pada 2016, untuk mengikuti kelas Stunt Academy. Sekembalinya, ia pun mantap memulai babak baru.
Pengalaman pahit manis sebagai stuntman membentuk cara pandangnya. Udeh kemudian berupaya membangun ekosistem yang lebih baik bagi para pejuang laga di belakang layar. Ia mendirikan PT Pejuang Laga Indonesia, atau yang akrab disebut Pejuang Stunt. Lembaga ini bertujuan menaungi para stunt dengan sistem yang lebih aman dan terorganisir, mulai dari urusan pembayaran, penyaluran kerja, hingga pengembangan kemampuan.
Prinsipnya dalam bekerja kini sangat jelas. Ia mengutip perkataan sesama stunt coordinator, Bruce Law.
"Jadi jika ada stunt yang cedera, berarti saya orang jahat. Saya bikin orang terluka dalam pekerjaan yang saya naungi. Jadi saya sangat memegang itu, jangan sampai ada stunt ataupun pemain cedera pada saat saya bertugas."
Baginya, keselamatan bukan lagi sekadar prosedur, tapi tanggung jawab moral. Setelah sekian lama menghadapi risiko sendiri, kini ia berdiri di garis depan untuk memastikan orang lain tidak merasakan penderitaan yang sama.
Artikel Terkait
Sebastian Frey Berjanji Kembali ke Indonesia untuk Berlibur Usai Tampil di Clash of Legends
Warga Desa Jubung Jember Andalkan Perahu Karet Usai Jembatan Putus Diterjang Banjir
Lula Kritik Gaya Komunikasi Trump yang Sebarkan Ancaman Lewat Media Sosial
Badan Geologi Ingatkan Warga Tomohon Waspadai Gas Beracun dan Erupsi Freatik Gunung Lokon