Selama bertahun-tahun, poros Riyadh-Abu Dhabi tampak tak tergoyahkan, terutama di medan perang Yaman. Tapi kini, fondasi itu retak. Di penghujung 2025 hingga awal 2026, eskalasi militer yang terjadi justru mengungkap perpecahan mendalam antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Musuh bersama, kelompok Houthi di utara, tak lagi cukup untuk menyatukan mereka.
Puncaknya adalah serangan udara Saudi yang menghantam pos-pos kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC). Nah, kelompok inilah yang selama ini didukung oleh UEA. Serangan itu menjadi sinyal paling gamblang: visi kedua sekutu ini tentang masa depan Yaman sudah tidak sejalan lagi.
Hadramaut: Titik Pemicu yang Sensitif
Semuanya berpusat di Hadramaut. Provinsi terluas di Yaman ini bukan cuma kaya minyak. Bagi Saudi, wilayah ini punya ikatan kultural dan genealogis yang kuat. Banyak keluarga elite kerajaan berakar dari sini. Jadi, stabilitas Hadramaut bukan sekadar urusan keamanan perbatasan, tapi juga menyangkut harga diri.
Ketika STC, dengan dukungan diam-diam UEA, melancarkan operasi besar-besaran dan merebut kendali atas Hadramaut dan Al-Mahra pada Desember 2025, Riyadh langsung berang. Dua provinsi itu mencakup hampir separuh wilayah Yaman dan berbatasan langsung dengan Saudi. Bagi mereka, ini ancaman yang terlalu dekat dan nyata.
Serangan udara pada Jumat, 2 Januari 2026, di al-Khashaa, Hadramaut, adalah jawabannya. Menurut laporan, tujuh orang tewas dan puluhan terluka. Mohammed Abdulmalik, pemimpin STC setempat, dengan tegas menyebut serangan itu menargetkan markas kelompoknya.
Tak berhenti di situ. Riyadh juga menuding Pelabuhan Mukalla sebagai jalur masuk senjata ilegal untuk STC dan mereka yakin senjata itu berasal dari Uni Emirat Arab. Abu Dhabi tentu saja membantah. Namun begitu, tuduhan itu telah memperdalam jurang di antara mereka.
Ini perubahan signifikan. Untuk pertama kalinya, Saudi secara terbuka tidak hanya berperang melawan Houthi, tapi juga membombardir kelompok yang secara nominal masih satu koalisi dengannya.
Kekacauan di Mukalla dan Perebutan Kendali
Keesokan harinya, pada 3 Januari, kekacauan meluas. Serangan udara lagi-lagi mengguncang Mukalla, kali ini menghantam markas Brigade Parshid milik STC. Saksi mata melihat kepulan asap hitam membubung. Siapa dalangnya? Belum ada yang mengaku. Tapi situasi di lapangan semakin panas dan kacau.
Di tengah vacuum kekuasaan itu, kelompok bersenjata lain, Pasukan Perlindungan Hadramaut yang loyal kepada pemerintah Yaman, mulai bergerak. Mereka mengklaim merebut sejumlah posisi militer dari STC. Gubernur Hadramaut, Salem al-Khanbashi, berteriak lewat imbauan agar warga menjauhi zona konflik dan menghentikan penjarahan.
Pemerintah Yaman yang diakui internasional, dengan dukungan penuh Riyadh, mengumumkan bahwa Pasukan Perisai Nasional mereka telah menguasai wilayah gurun dan lembah Hadramaut. Sekarang, mereka bergerak ke pesisir, termasuk Mukalla. Langkah ini jelas: upaya merebut kembali provinsi strategis itu dari cengkeraman separatis.
Diplomasi di Bawah Ancaman Rudal
Di balik dentuman bom, Saudi juga main kartu diplomasi. Kementerian Luar Negeri mereka mengeluarkan seruan, mengajak semua faksi selatan untuk duduk dalam sebuah forum di Riyadh. Tujuannya, merumuskan solusi yang "adil" untuk masalah selatan.
Artikel Terkait
KPK Panggil Mantan Kajari Bekasi Terkait Kasus Ade Kuswara Kunang
Polisi Bantu Pengemudi Lansia Ganti Ban Pecah di Jalur Contraflow Tol Dalam Kota
Eddy Soeparno Bawa Bantuan Tepat Sasaran untuk Fase Pemulihan Agam
Truk Sampah Nyangkut di Busway, Lalu Lintas MT Haryono Lumpuh Berjam-jam