Dokumen baru yang dibuka Departemen Kehakiman AS pada akhir Januari lalu mengungkap rencana yang cukup mengerikan. Salah satu rekan dekat Jeffrey Epstein pengusaha AS yang juga terpidana kejahatan seksual ternyata pernah berencana mengincar aset Libya yang dibekukan. Yang menarik, Epstein disebut akan melibatkan mantan agen intelijen Inggris dan Israel untuk menjalankan skema ini.
Email itu sendiri dikirim ke Epstein pada Juli 2011. Waktu itu, situasi di Libya sedang kacau balau. Pemberontakan yang didukung NATO terhadap Muammar Gaddafi sudah berjalan beberapa bulan, dan sang pemimpin akhirnya tewas dibunuh pemberontak pada Oktober di tahun yang sama. Dalam kondisi politik yang tak menentu itulah, peluang finansial ini dianggap terbuka lebar.
Menurut dokumen yang dilansir Aljazeera, ada sekitar 80 miliar dana Libya yang membeku di berbagai negara. Sekitar 32,4 miliar di antaranya tersangkut di AS. Tapi angka itu mungkin hanya puncak gunung es.
“Dan diperkirakan bahwa angka sebenarnya berkisar antara tiga hingga empat kali lipat dari angka ini dalam aset negara yang dicuri dan disalahgunakan,” begitu bunyi salah satu bagian email.
Bayangkan saja. Jika mereka bisa mengidentifikasi atau mengambil alih 5 sampai 10 persen dari uang itu, lalu mengambil komisi 10 hingga 25 persen, nilainya bisa mencapai miliaran dolar. Jumlah yang menggiurkan, bukan main.
Nah, untuk mewujudkannya, pengirim email menyebut sudah ada kontak dengan beberapa mantan anggota MI6 dan Mossad. Mereka diklaim siap membantu “memulihkan” aset-aset yang dianggap curian itu.
Di sisi lain, email itu juga melihat peluang jangka panjang. Libya diprediksi butuh setidaknya 100 miliar dolar untuk membangun kembali negaranya pasca-konflik.
“Tetapi daya tarik sebenarnya adalah jika kita bisa menjadi andalan mereka karena mereka berencana untuk menghabiskan setidaknya USD 100 miliar tahun depan untuk membangun kembali negara mereka dan mendorong perekonomian,” tulis pengirim.
Libya dilihat sebagai ladang yang subur. Negara dengan cadangan energi besar dan tingkat melek huruf yang tinggi faktor yang dianggap mendukung rencana hukum dan keuangan mereka. Beberapa firma hukum internasional pun disebut sudah diajak bicara, dengan skema bayaran berdasarkan hasil yang dicapai.
Semua ini, tentu saja, masih sebatas rencana di atas kertas atau lebih tepatnya, di dalam surel. Tapi dokumen ini memberi gambaran nyata tentang jaringan dan ambisi yang dibangun di sekitar Epstein, jauh setelah kasusnya sendiri menjadi headline global.
Artikel Terkait
Persijap Jepara Takluk 0-2 dari Persija, Pelatih Mario Lemos Akui Taktik Gagal
Banjir Kiriman dari Bogor Rendam Empat Wilayah di Kota Bekasi, BPBD Evakuasi Warga
Banjir Rendam Permukiman di Tangsel, Puluhan Warga Dievakuasi dengan Perahu Karet
Nadiem Makarim Minta Status Tahanan Dialihkan Demi Pemulihan Pascaoperasi