Ngantuk Biasa atau Ptosis? Ini Bedanya.
Ngantuk itu cuma sementara. Ptosis? Itu lain cerita.
Mari kita lihat perbedaannya dengan kepala dingin. Soalnya, dua hal ini sering banget dicampuradukkan, padahal jelas-jelas berbeda.
Ngantuk itu sifatnya episodik. Maksudnya, datang sesekali lalu pergi. Kayak tamu tak diundang. Biasanya, setelah Anda tidur nyenyak atau dapat secangkir kopi, wajah langsung segar kembali. Ekspresi berubah. Dan yang paling kentara, rasa ngantuk itu nggak muncul di setiap situasi. Anda mungkin ngantuk berat saat rapat, tapi langsung semangat saat diajak main bola.
Nah, ptosis beda lagi. Ini persisten. Menetap. Kelopak mata yang turun itu konsisten terlihat, dari pagi sampai malam, di berbagai kesempatan. Debat, pidato, wawancara keadaannya sama aja. Tidak banyak berubah meski konteksnya berganti.
Yang menarik, pola inilah yang seharusnya jadi perhatian. Dalam neuroscience, pola adalah bahasa tubuh yang berbicara. Dan pola yang konsisten seperti ini bukan sekadar soal kurang tidur semalam. Ini adalah sebuah tanda.
Ngantuk biasa? Itu tidak punya pola.
Jadi, ketika seorang dokter mendiagnosis blefaroptosis atau ptosis, seharusnya langkah logisnya adalah menyarankan pengobatan. Kenapa? Karena ptosis berkaitan dengan kerusakan psikoneurologis gangguan yang melibatkan jiwa dan sistem saraf.
Artikel Terkait
Saldo Rp 500 Ribu: Ironi Kas Daerah di Balik Gaya Gubernur Jabar
KPK Tunggu Audit BPK untuk Tentukan Kerugian Negara dari Kasus Kuota Haji
Warkop di Bundaran HI Ditegur, Meja Kursi di Trotoar Harus Minggir
Pertemuan Solo: Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bertamu, Koalisi Penggugat Retak