Ketegangan di Timur Tengah lagi-lagi memantik perhatian dunia. Kali ini, sorotan tertuju pada Iran, yang mendapat ancaman militer dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengerahkan kapal induk AS ke perairan dekat Iran, sebuah langkah yang jelas-jelas provokatif.
Nah, reaksi tak datang hanya dari Teheran. Dua sekutu utamanya, Rusia dan China, kini ikut mengawasi situasi dengan ketat. Mereka sepertinya tak mau tinggal diam. Menurut laporan Aljazeera, Selasa (27/1/2026), para pejabat tinggi dari Moskow dan Beijing sudah mulai berkomunikasi intensif membahas perkembangan terbaru ini. Kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS tampaknya jadi pemicunya.
Pembicaraan itu terjadi antara Menteri Pertahanan Rusia, Andrei Belousov, dengan rekan sejawatnya dari China, Dong Jun.
"Kita perlu terus menganalisis situasi keamanan dan mengambil tindakan yang tepat," ujar Belousov, seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Dari sisi China, Dong Jun menyatakan kesiapan Beijing untuk berkolaborasi lebih erat dengan Moskow. Kerja sama itu ditujukan untuk menghadapi berbagai "risiko dan tantangan" yang sedang mereka hadapi bersama.
Ini bukan hal yang mengejutkan, sebenarnya. Rusia dan China selama ini memang punya kemitraan yang kuat, mencakup urusan keamanan hingga perdagangan. Di tengah peta geopolitik yang rumit, Iran hadir sebagai sekutu penting bagi kedua negara raksasa yang punya kemampuan nuklir itu. Jadi, ketika Teheran terancam, wajar jika Moskow dan Beijing ikut siaga. Mereka punya kepentingan yang tak kecil di sana.
Artikel Terkait
Warga Swedia Ditemukan Tewas Usai Jatuh ke Jurang Sedalam 30 Meter di Ubud
Carrick Puji Performa Casemiro yang Justru Moncer di Musim Terakhirnya Bersama Manchester United
Kemendikdasmen Ubah Sistem Pencairan Tunjangan Profesi Guru dari Triwulanan Menjadi Bulanan
Pertemuan Purnawirawan TNI Dinilai Jadi Kanal Informal Jaga Stabilitas Politik, Absennya SBY dan Luhut Tuai Sorotan