Tak ketinggalan, program pendampingan praktik baik dan model pembelajaran darurat akan digelar bagi sekolah-sekolah di tiga provinsi tersebut.
Di sisi lain, meski proses belajar mengajar sudah dinyatakan berjalan 100%, persoalan sarana fisik masih jadi pekerjaan rumah yang besar. Banyak sekolah yang kondisinya memprihatinkan.
"Alhamdulillah, proses pembelajaran di ketiga provinsi itu sudah berjalan semua. Tapi, yang masih tersisa dan harus segera dituntaskan adalah perbaikan sarana fisiknya," kata Atip.
Dia merinci kondisi di Aceh. Sebanyak 2.966 sekolah sudah bisa digunakan kembali karena hanya mengalami kerusakan ringan. Namun, masih ada sekitar 82 sekolah yang murid-muridnya terpaksa belajar di tenda atau kelas darurat.
"Ini yang perlu dan akan kami perbaiki secepatnya. Mudah-mudahan di bulan Februari nanti, yang masih sekolah di tenda sudah bisa ditangani," harapnya.
Namun begitu, tantangan terberat justru ada pada 25 sekolah yang statusnya 'menumpang'. Sekolah-sekolah ini memerlukan relokasi total.
"Mereka harus dipindahkan ke lokasi yang benar-benar aman, jauh dari wilayah rawan bencana. Membangun kembali di tempat asal sudah tidak memungkinkan," pungkas Atip.
Secara keseluruhan, Kemendikdasmen mencatat ada 4.859 sekolah yang terdampak. Rinciannya, Aceh paling banyak dengan 3.773 sekolah, disusul Sumatera Utara (1.259 sekolah), dan Sumatera Barat (527 sekolah). Perbaikan fisik, terutama untuk yang rusak berat, memang butuh waktu dan ketepatan, terutama dalam memilih lokasi tanah yang baru dan aman.
Artikel Terkait
China Keluarkan Peringatan Liburan: Hindari Jepang Saat Imlek
KPK Periksa Petinggi Kesthuri, Diduga Jadi Pengepul Uang Kuota Haji
Gus Ipul Pastikan Bantuan Pascabencana Sumatera Tembus Rp2 Triliun
Praktisi Hukum Dukung Penegasan Kapolri: Polri di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi